Angin-Gelombang Tak Bersahabat, Kapal Hancur Dihantam Ombak di Paiton-Probolinggo

Inneke Agustin • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 08:54 WIB
RUSAK: Sejumlah ABK KM Pantai Bali mengevakuasi bangkai kapal yang terhantam ombak di perairan Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Paiton, Kabupaten Probolinggo, Senin (14/9) sore. (POSAL PAITON FOR JAWA POS RADAR BROMO)
RUSAK: Sejumlah ABK KM Pantai Bali mengevakuasi bangkai kapal yang terhantam ombak di perairan Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Paiton, Kabupaten Probolinggo, Senin (14/9) sore. (POSAL PAITON FOR JAWA POS RADAR BROMO)

PAITON, Radar Bromo- Angin dan gelombang di Perairan Kabupaten Probolinggo, belakangan ini tak bersahabat. Karena itu, Pos TNI Angkatan Laut (Posal) Paiton mengimbau para nelayan lebih waspada dan tidak melaut ketika cuaca tidak kondusif.

Komandan Posal Paiton Kapten Laut (P) Jumadi mengatakan, imbauan terkait kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem telah disampaikan kepada para nelayan sejak sepekan terakhir. Nelayan diminta mempertimbangkan kondisi cuaca sebelum berangkat dan tidak memaksakan diri melaut, ketika angin kencang maupun terjadi gelombang tinggi. “Peringatan ini telah kami sampaikan dan sebar luaskan kepada nelayan sejak seminggu lalu,” katanya.

Jumadi menjelaskan, meski kondisi perairan terkadang terlihat tenang, perubahan cuaca dapat terjadi sewaktu-waktu, sehingga nelayan diminta tetap memperhatikan kondisi angin dan gelombang sebelum maupun saat berada di laut.

Namun masih ada saja nelayan yang nekat melaut. Faktor ekonomi selalu menjadi salah satu alasan. Salah satunya nelayan dengan Kapal Motor (KM) yang mengalami kerusakan berat setelah dihantam gelombang di perairan Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Paiton, Kabupaten Probolinggo, Senin (14/9).

KM Pantai Bali itu dinakhodai Hasan, 40, warga Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan. Kapal kecelakaan ketika hendak meninggalkan PPP Paiton untuk mayang.

Jumadi menerangkan, kapal dihantam gelombang dan angin dari arah depan lambung kanan. Dorongannya membuat kapal kehilangan kendali hingga terdorong menuju batu pemecah gelombang.

Benturan dengan batu pemecah gelombang mengakibatkan KM Pantai Bali rusak berat. Beruntung, nakhoda bersama 13 anak buah kapal (ABK) berhasil menyelamatkan diri, sehingga tidak ada korban jiwa.

Hingga Rabu (16/9), para ABK masih mengevakuasi sejumlah perlengkapan kapal yang masih dapat dimanfaatkan. Di antaranya jaring dan tali. “Sejumlah barang yang masih dapat digunakan, seperti jaring dan tali,” kata Jumadi.

Ia kembali mengingatkan para nelayan agar tidak mengabaikan kondisi cuaca. Menurutnya, keselamatan harus menjadi pertimbangan utama sebelum memutuskan berangkat melaut. Terutama ketika angin kencang dan gelombang tinggi. (gus/rud)

Editor : Fahreza Nuraga
Posal Paiton nelayan Gelombang probolinggo