PROBOLINGGO, Radar Bromo – Jalanan Kota Probolinggo berubah menjadi panggung keberagaman budaya, Minggu (13/9). Puluhan tim dari berbagai instansi mengikuti Pawai Budaya memperingati Hari Jadi ke-667 Kota Probolinggo.
Sejak rombongan pertama melintas, masyarakat yang memadati sisi jalan langsung tertuju pada penampilan peserta.
Mereka berjalan dan menari dalam formasi sambil membawa atribut serta properti khas masing-masing.
Alunan musik tradisional turut mengiringi langkah peserta dan membuat suasana semakin meriah.
Yang menarik, pawai tidak hanya menyuguhkan kekayaan budaya Kota Probolinggo.
Baca Juga: Lengkapi Literasi Dulu sebelum Tetapkan Warisan Budaya Tak Benda Kota Pasuruan
Sesuai tema yang melambangkan harmonisasi pesona Nusantara, pawai juga menampilkan kesenian dari berbagai wilayah Nusantara.
Beragam busana adat, tarian, kesenian tradisional, hingga maskot daerah dipadukan dalam satu arak-arakan yang menggambarkan heterogenitas budaya Nusantara.
Setiap rombongan hadir dengan ciri khas masing-masing. Menampilkan perbedaan karakter seni, busana, musik, hingga cerita.
Sekretariat DPRD Kota Probolinggo misalnya, menampilkan tarian Sekar Arum. Kabag Umum DPRD Kota Probolinggo Agus Lithanta menjelaskan, tarian itu mengangkat kisah Nyai Sekar Arum, perempuan keturunan bangsawan dari Blambangan, Banyuwangi.
“Ia dikenal memiliki paras yang cantik serta mahir menari dan nembang sebagai seorang pesinden. Bersama kelompok seninya, Sekar Arum melakukan perjalanan hingga tiba di wilayah Banger, yang kini dikenal sebagai Probolinggo,” ungkapnya.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menyuguhkan Jaran Bodag. Kesenian khas Kota Probolinggo yang merupakan salah satu Warisan Budaya Takbenda.
Sebanyak 100 penari membawakan tarian itu dan menyita perhatian penonton.
Ketua Dewan Kesenian Kota Probolinggo (DKKPro) Peni Priyono mengatakan, persiapan dilakukan dalam waktu singkat.
“Kami hanya memiliki waktu tiga hari untuk persiapan, penyesuaian, dan mematangkannya. Kami ingin menampilkan kesenian asli Kota Probolinggo yang melambangkan kerja keras,” ungkapnya.
Di tengah dominasi kesenian lokal, budaya daerah lain juga mendapat ruang. Salah satunya kesenian Banyuwangi yang ditampilkan melalui kolaborasi Sekretariat Daerah, Satpol PP, dan DPMPTSP Kota Probolinggo.
Pegiat kesenian asal Banyuwangi, Sabar mengatakan, rombongannya membawakan pertunjukan berjudul Adipati Minak Jinggo Membangun Tlatah Budaya Nusantara di Kota Probolinggo.
Tarian ini menceritakan Prabu Minak Jinggo yang merupakan raja Blambangan yang sangat berani, berwibawa, dan ditakuti oleh kerajaan-kerajaan lain. Termasuk Majapahit.
Cerita itu juga menggambarkan upaya memajukan wilayah utara Probolinggo yang subur. Hingga berkembang menjadi daerah yang gemah ripah, sejahtera, serta kaya tradisi dan keberagaman suku budaya.
“Kami melakukan persiapan sekitar dua minggu, ini dikebut. Biasanya latihan hingga larut. Semoga bisa menampilkan yang terbaik,” ungkapnya.
Bagi masyarakat, keberagaman tersebut menjadi pengalaman tersendiri. Anastasia Nadliratul Lail, 24, warga Kelurahan/ Kecamatan Kanigaran, mengaku senang menyaksikan pawai.
Meski jumlah peserta tahun ini tidak terlalu banyak, ragam budaya yang ditampilkan tetap mampu menggambarkan kekayaan budaya yang ada.
“Semuanya sudah sangat terwakilkan dengan penampilan mereka. Bagi saya ini sangat bagus dan seru untuk ditonton. Sekaligus bisa tahu filosofi tiap kebudayaan yang ada,” ungkapnya.
Hal serupa disampaikan Dewi, 25, warga Kelurahan Kebonsari Kulon, Kanigaran. Ia bahkan sudah berada di lokasi pawai sejak pukul 11.00. Selain menonton, Dewi mengabadikan pawai melalui kamera ponselnya dan membagikannya secara langsung di media sosial.
“Sambil nonton pawai budaya, sambil live. Meski mungkin jumlahnya tergolong sedikit, tapi untuk jenis budayanya beragam. Jadi ingin saya share juga ke netizen melalui live,” ungkapnya.
Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin mengatakan, konsep pawai memang dirancang untuk menghadirkan beragam budaya di Indonesia.
Menurutnya, keberagaman menjadi modal penting membangun kolaborasi di tengah masyarakat yang heterogen.
“Artinya, dengan konsep ini kami ingin beradaptasi dengan situasi dan semua budaya dan masyarakat yang ada agar lahir inovasi berkolaborasi di Kota Probolinggo,” katanya. (gus/hn)
Editor : Muhammad Fahmi