SUKAPURA, Radar Bromo – Pemerintah tak hanya mengandalkan pemadaman di darat untuk mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dilakukan untuk mempercepat pemadaman, sekaligus mencegah kebakaran meluas.
OMC dilakukan Kementerian Kehutanan bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) selama beberapa hari. Mulai Kamis (3/9) hingga Rabu (9/9).
Dirjen Penegakan Hukum Kehutanan Dwi Januanto Nugroho mengatakan, operasi tersebut merupakan bagian dari upaya terpadu pengendalian karhutla. “Upaya ini dilakukan untuk mempercepat pengendalian kebakaran, melindungi masyarakat, dan mencegah meluasnya dampak karhutla,” katanya.
Menurutnya, pelaksanaan OMC ditentukan berdasarkan analisis meteorologi, potensi pertumbuhan awan, perkembangan karhutla, dan pemantauan tinggi muka air tanah oleh BMKG. Sasaran dipilih berdasarkan potensi pembentukan awan hujan dan tingkat kerawanan karhutla yang tinggi.
“Pelaksanaan OMC di Jawa Timur diarahkan untuk mendukung pemadaman kebakaran hutan di wilayah TN Bromo Tengger Semeru, Gunung Arjuno, dan wilayah lain di Jawa Timur,” sebut Januanto.
Pemadaman di lapangan tetap berjalan. Sementara teknologi OMC menjadi dukungan agar karhutla dapat secepat mungkin dipadamkan. Pengendalian tersebut, kata Januanto, juga merupakan bentuk perlindungan negara terhadap masyarakat terdampak.
“Yang kami lindungi bukan hanya ekosistem di kawasan hutan, tetapi juga masyarakat yang tinggal dan bergantung pada lingkungan sekitarnya,” tegasnya.
Karena itu, setiap langkah pengendalian diarahkan untuk mengurangi dampak terhadap kesehatan, aktivitas sosial, pendidikan, dan perekonomian masyarakat. Pada saat yang sama, apabila ditemukan indikasi pelanggaran, proses penegakan hukum tetap berjalan sesuai ketentuan.
OMC sendiri dilakukan menggunakan Pesawat CASA A2104 dengan bahan semai NaCl sebanyak 800 kilogram setiap sortie. Kasubdit Pencegahan Kebakaran Kementerian Kehutanan Ditjen Penegakan Hukum Kehutanan Haryanto menyebut, hingga Minggu (6/9) telah dilakukan empat sortie.
Koordinator Lapangan Operasi Modifikasi Cuaca BMKG M. Bayu Rizky Prayoga menambahkan, wilayah penyemaian secara presisi belum dapat dipastikan. Namun sasaran meliputi area TNBTS dan hutan di gunung-gunung wilayah Jawa Timur. “Ini dilakukan untuk mengantisipasi kebakaran,” tuturnya.
Selain pesawat, BMKG mengoperasikan drone untuk menjangkau awan-awan orografis. Yaitu awan yang menempel di lereng gunung dan berisiko bagi penerbangan berawak.
Setelah penyemaian, dilakukan verifikasi pemantauan hujan dari berbagai sumber. Bisa dari penakar curah hujan BMKG, satelit dan radar cuaca BMKG, sampai laporan-laporan lapangan dari personel masing-masing di wilayah Jawa Timur.
“Alhamdulillah, kemarin (6/9) hasil pantauan kami telah terjadi hujan di area-area penyemaian awan,” tutupnya.
Terpisah, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni memastikan pesawat OMC tetap disiagakan hingga 13 September. “Ini dilakukan agar setiap peluang pembentukan awan hujan dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk membantu penanganan sekaligus mencegah munculnya kebakaran baru,” pungkasnya. (gus/hn)
Editor : Muhammad Fahmi