TEGALSIWALAN, Radar Bromo – Jembatan Curah Bubur di ruas Jalan Paras-Klenang Kidul, Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo, mulai diperbaiki. Selama perbaikan, akses menuju jembatan ditutup total. Memaksa warga membuka sendiri jalur alternatif dengan melintasi lahan tebu.
Jalur alternatif itu dibuka secara swadaya oleh perwakilan warga tiga desa sekitar dengan panjang sekitar 700 meter. Jaraknya lebih dekat dibandingkan harus memutar. Namun hanya bisa dilalui kendaraan roda dua.
Sayangnya, kondisi jalan itu curam dan berupa tanah dan pasir. Di titik tertentu, tak jarang motor yang lewat jalur itu terpeleset pasir. Kemudian ambles ke dalam pasir dan tidak bisa bergerak.
Karena itu, sejumlah warga setempat stand by di titik-titik tertentu untuk membantu pengendara motor melintas dengan aman. Mereka biasanya mendorong motor warga yang terjebak di pasir.
Pj Kades Paras Hasan mengatakan, jembatan itu mulai diperbaiki sejak Rabu (26/8). Rencananya, Pemkab Probolinggo memperlebar jembatan dari sekitar 3 meter menjadi 5,5 meter.
Selama perbaikan itu, menurutnya, jembatan ditutup total. Sejak itu juga, perwakilan warga dari tiga desa rembukan dan mencari akses jalan lain untuk beraktivitas. Salah satunya, melintasi lahan tebu dan curah di sisi barat jembatan.
“Ini jalan alternatif yang dibuat oleh masyarakat, meski sebetulnya tidak direkomendasikan karena jalannya cukup curam. Namun secara jarak, memang lebih dekat. Warga buat jalan ini karena kasihan banyak anak yang hendak berangkat sekolah,” katanya.
Baca Juga: Kawasan Bromo Kembali Terbakar: 2 Titik Api di Perbukitan Seruni Point, Mengarah ke Jembatan Kaca
Pantauan Jawa Pos Radar Bromo, sejumlah warga berjaga untuk membantu pemotor yang kesulitan saat menuruni atau menaiki jalur curam tersebut.
Sementara itu, mobil pribadi harus memutar melalui Desa Bulujaran Lor dengan jarak sekitar 7 kilometer. Atau melewati Desa Bulujaran Kidul yang mencapai sekitar 5 kilometer.
“Kalau dibandingkan jalan alternatif melewati curah itu lebih cepat. Hanya 700 meter panjangnya. Mungkin karena itu, warga banyak yang lebih memilih pakai jalur alternatif ini ketimbang memutar ke desa sebelah,” katanya.
Sanusi, 62, warga Desa/Kecamatan Leces memilih jalur tersebut meski mengaku khawatir. Kondisi jalan yang terjal dan tanah membuatnya waswas. Namun ia enggan memutar karena jaraknya lebih jauh.
“Waduh, jalannya terjal dan tanah juga. Sebetulnya khawatir tapi bagaimana lagi. Kalau lewat jalan yang lain itu memutar cukup jauh. Sementara saya ingin cepat sampai ke rumah,” ungkapnya.
Abd Rofi’i, 44, pemilik lahan tebu yang dijadikan jalur alternatif berharap pemerintah memperhatikan keamanan jalur tersebut. Ia mengusulkan pemasangan batako karena jalan tanah berpotensi becek dan licin saat hujan.
Kepala Dinas PUPR Kabupaten Probolinggo Hengki Cahyo mengatakan, perbaikan ditargetkan selesai 25 Desember 2026. Selama perbaikan itu, kendaraan bertonase besar harus memutar ke utara.
Sekretaris Dinas PUPR Asrul Bustami meninjau jalur alternatif itu Kamis (3/9) bersama tim. Tim datang ke lokasi dan melihat kondisi jalurnya.
“Nantinya akan kami koordinasikan apa-apa yang perlu dilakukan di sini, termasuk pengamanannya. Karena ini juga akses yang digunakan oleh warga. Kami berupaya memberikan keselamatan semaksimal mungkin,” pungkasnya. (gus/hn)
Editor : Muhammad Fahmi