PROBOLINGGO, Radar Bromo- Seorang anak buah kapal (ABK) asal Tegal, Jawa Tengah, Abdul Kholik, 42, harus pulang tanpa nyawa. Ia meninggal dunia ketika kapalnya berlayar di Perairan Digul, Papua. Korban diduga meninggal karena sakit.
Jenazah korban tiba dan dievakuasi dari kapal di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Mayangan, Kota Probolinggo, Rabu (2/9). Setelah dievakuasi, jenazah langsung dibawa ke kamar jenazah RSUD dr. Mohamad Saleh Kota Probolinggo untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Komandan Pos TNI AL Mayangan Lettu Laut (P) Marjun Susanto mengatakan, korban sebelumnya ikut berlayar hingga ke Perairan Digul. Selama berada di atas kapal, kesehatannya memburuk.
“Akhirnya, sebelum sempat dibawa ke rumah sakit, yang bersangkutan meninggal dunia, Sabtu (29/8). Jenazahnya dibawa kapal dan baru bersandar di PPP Probolinggo, hari ini (2/9),” katanya.
Setelah kapal tiba di PPP Mayangan, Anggota Satpolairud Polres Probolinggo bersama pihak terkait langsung mengevakuasi jenazah korban dari kapal.
“Korban dievakuasi dari kapal, kemudian dibawa ke kamar jenazah (RSUD dr. Mohamad Saleh),” ujar Kasatpolairud Polres Probolinggo AKP I Wayan Mulyana.
Adik kandung korban, Jaelani, 40, mengatakan, korban sudah lama bekerja sebagai nelayan. Selama ini, korban tidak pernah mengeluhkan kondisi kesehatan maupun memiliki riwayat penyakit yang diketahui keluarga.
“Makanya kami kaget ketika mendapat kabar ini,” ujarnya.
Jaelani mengatakan, pihak keluarga berencana membawa pulang jenazah Abdul Kholik ke Tegal, untuk dimakamkan.
“Sebentar lagi akan kami bawa pulang langsung ke Tegal dan disemayamkan di sana,” katanya.
Berdasarkan hasil pemeriksaan luar terhadap jenazah korban, tidak ditemukan tanda-tanda mencurigakan maupun kekerasan. Namun, kedua kaki korban terlihat mengalami pembengkakan.
Koordinator Kamar Jenazah RSUD dr. Mohamad Saleh Kota Probolinggo Nur Wasis mengatakan, kondisi tersebut dapat menjadi salah satu indikasi adanya gangguan kesehatan tertentu.
“Namun penyebab pasti kematian tetap memerlukan pemeriksaan medis lebih lanjut,” ujarnya. (gus/rud)
Editor : Fahreza Nuraga