PROBOLINGGO, Radar Bromo– PCNU Kota Probolinggo mulai membuka arah sikapnya pada Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35. PCNU Kota Probolinggo cenderung menginginkan sosok Ketua Umum Tanfidziyah dari luar petahana. Kecuali terjadi islah atau rekonsiliasi total di internal PBNU.
Sikap tersebut bukan semata soal pergantian figur. PCNU Kota Probolinggo menilai kepemimpinan NU ke depan harus mampu menjadi perekat dan diterima berbagai kalangan. Mulai pesantren, struktural organisasi, hingga akar rumput.
Sekretaris PCNU Kota Probolinggo H. Ilyas yang juga bertindak sebagai Komisi Program dalam forum muktamar mengatakan, tantangan organisasi di era modern membutuhkan model kepemimpinan kolektif.
Menurutnya, model tersebut paling ideal untuk menakhodai organisasi sebesar Nahdlatul Ulama.
"Dalam beberapa kesempatan, para calon ketua umum sebenarnya sudah menyampaikan gagasan-gagasan mereka ke publik. Sejauh ini dinamika berjalan normatif. Belum ada isu penolakan terhadap Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) pengurus pusat," ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (27/8).
Meski bursa calon mulai menjadi perhatian, Ilyas menegaskan PCNU Kota Probolinggo belum melakukan pertemuan khusus dengan kandidat yang akan maju dalam Muktamar NU.
Alasannya, nama-nama yang benar-benar akan mencalonkan diri belum diketahui secara pasti.
”Kami belum mengerucut pada nama-nama calon yang diharapkan. Karena masih belum pasti, nama-nama yang beredar itu benar maju sebagai calon,” terangnya.
Baca Juga: Muktamar NU Dimulai Besok, PCNU Bangil Sudah Komunikasi dengan Hampir Semua Calon
Namun, PCNU Kota Probolinggo sudah memiliki kecenderungan dalam melihat figur yang dinilai sesuai dengan kebutuhan NU ke depan. Dari sejumlah nama yang beredar, figur di luar petahana dinilai lebih mendekati kriteria yang diharapkan.
Ilyas menjelaskan, pandangan tersebut muncul karena figur petahana dinilai belum sepenuhnya menggambarkan sosok pemimpin yang mampu merangkul dan diterima seluruh kalangan internal NU. Penilaian itu mencakup kalangan pesantren, maupun internal PBNU.
"Kecuali jika ada islah (rekonsiliasi) total di tubuh PBNU saat ini. Jika tidak, pandangan kami secara umum berada di luar petahana. Figur masa depan harus bisa menjadi perekat dan diterima oleh kalangan pesantren, struktural, hingga akar rumput,” tegasnya.
Di tengah dinamika tersebut, PCNU Kota Probolinggo telah membagi tugas delegasinya untuk mengikuti Muktamar NU 2026 selama 27-31 Agustus 2026.
Pembagian dilakukan secara strategis sesuai bidang yang akan dikawal masing-masing pengurus.
Ketua PCNU Kota Probolinggo diplot mengawal Komisi Organisasi. Sementara itu, tiga komisi keagamaan atau Bahtsul Masa'il dikawal langsung oleh jajaran Syuriah melalui majelis ratib. Sedangkan Sekretaris PCNU Kota Probolinggo H. Ilyas akan fokus mengawal pembahasan di Komisi Program. (mas/hn)
Editor : Muhammad Fahmi