DRINGU, Radar Bromo- Kekeringan dan krisis air bersih di Kabupaten Probolinggo meluas. Sejauh ini, ada tujuh kecamatan yang telah meminta kiriman air bersih ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo.
Kekeringan dan krisis air bersih menjadi bencana tahunan saat masuk kemarau. Saat masuk puncak kemarau, kewaspadaan terus ditingkatkan.
BPBD Probolinggo telah melakukan pemetaan. Setidaknya, ada 16 kecamatan yang diwaspadai karena berpotensi krisis air bersih. Di antaranya, Kecamatan Bantaran, Banyuanyar, Besuk, Dringu, dan Gading. Lalu, Kecamatan Kotaanyar, Kuripan, Leces, Lumbang, dan Paiton. Serta, Kecamatan Pakuniran, Sukapura, Tegalsiwalan, Tiris, Tongas, dan Wonometo.
“Kekeringan dan krisis air bersih memang perlu diwaspadai selama kemarau. Beberapa wilayah bahkan sudah masuk data pantau,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo Oemar Sjarief.
Sejak awal Juni hingga Senin (24/8), BPBD telah mengirimkan air bersih ke 16 dusun di 19 desa yang tersebar di tujuh kecamatan.
Meliputi Kecamatan Tiris, Banyuanyar, Tegalsiwalan, Wonomerto, Leces, Kuripan, dan Tongas. Potensi meluasnya krisis air bersih masih terbuka lebar sejalan dengan lamanya musim kemarau.
Oemar mengatakan, pengiriman air bersih dilakukan karena dua hal. Yakni, sumber air bersih yang menyusut terdampak musim kemarau serta tidak terpenuhinya air kebutuhan masyarakat karena gangguan pipanisasi air bersih.
Di sisi lain air bersih merupakan kebutuhan dasar kehidupan. Setiap hari tidak bisa lepas dari penggunaan air bersih. Baik untuk minum, memasak, dan aktivitas rumah tangga lainnya. Sehingga harus terus dipenuhi bahkan saat kondisi kekeringan dan krisis air bersih.
“Saat ini ada enam desa yang secara resmi sudah membuat surat pengajuan permohonan air bersih. Segera kami jadwalkan pengiriman,” ujarnya. (ar/rud)
16 KECAMATAN BERPOTENSI KRISIS AIR BERSIH
· Bantaran
· Banyuanyar
· Besuk
· Dringu
· Gading
· Kotaanyar
· Kuripan
· Leces
· Lumbang
· Paiton
· Pakuniran
· Sukapura
· Tegalsiwalan
· Tiris
· Tongas
· Wonometo
Editor : Fahreza Nuraga