KRUCIL, Radar Bromo - Setelah sekitar tujuh tahun lapuk, dermaga kayu di Danau Taman Hidup Argopuro di Desa Bermi, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo, akhirnya dibangun lagi. Perbaikan dilakukan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur.
Dermaga kayu sepanjang sekitar 30 meter itu diperbaiki menggunakan material baru yang diangkut secara gotong royong menuju kawasan Danau Taman Hidup, Senin (17/8).
Kepala BBKSDA Jawa Timur Nur Patria Kurniawan mengatakan, dermaga tersebut terakhir kali diperbaiki pada 2019.
Seiring berjalannya waktu, sejumlah bagian kayu lapuk dan tidak lagi kokoh. “Karena itu, kami perbaiki bertepatan dengan HUT RI,” katanya.
Menurutnya, dermaga tersebut memang bukan bangunan dengan konstruksi megah. Namun keberadaannya memiliki arti tersendiri bagi kawasan Danau Taman Hidup. Ia menjadi salah satu ikon di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Dataran Tinggi Yang tersebut.
Selama bertahun-tahun, dermaga itu juga menjadi salah satu titik yang kerap didatangi pendaki untuk menikmati panorama danau. Sekaligus mengabadikan pengalaman mereka selama berada di kawasan konservasi.
Dalam proses pembenahan, BBKSDA Jatim melibatkan berbagai unsur. Mulai ojek, pelaku wisata alam, hingga petugas BBKSDA bergotong royong mengangkut material menuju lokasi.
Baca Juga: Pendaki Argopuro Meninggal karena Alami Hipotermia, Yuk Kenali Gejala dan Penanganannya
Puluhan lembar kayu meranti yang telah dipotong dengan lebar sekitar 1,2 meter dibawa melewati jalur pegunungan menuju tepian Danau Taman Hidup. Selain bagian lantai dermaga, atap fasilitas tersebut juga turut diperbaiki.
“Atap sengnya juga kami ganti. Rangka atap menggunakan kayu meranti sepanjang empat meter,” sebut Nur Patria.
Proses pengangkutan material menjadi tantangan tersendiri. Sebab, lokasi Danau Taman Hidup berada di kawasan pegunungan dengan medan yang tidak mudah dilalui. Setiap material harus dibawa secara bertahap melewati jalur yang menjadi akses menuju kawasan tersebut.
Bagi BBKSDA Jatim, kegiatan tersebut tidak hanya berorientasi pada perbaikan sarana. Momentum pembenahan dermaga juga dimanfaatkan untuk memperkuat kepedulian terhadap kebersihan kawasan konservasi.
“Di sana kami juga membersihkan sampah di sepanjang jalur Baderan hingga Bermi. Ini bukan semata memperbaiki sebuah fasilitas. Ada pesan konservasi yang jauh lebih penting di baliknya,” ujarnya.
Nur Patria menambahkan, kunjungan wisata secara terbatas di SM Dataran Tinggi Yang termasuk Danau Taman Hidup, telah kembali dibuka.
Sejak 10 Juni, masyarakat yang ingin berkunjung dapat melakukan pemesanan tiket melalui sistem e-ticketing.
Meski akses kunjungan telah dibuka, pihaknya menegaskan bahwa kegiatan wisata di kawasan konservasi tetap memiliki batasan.
Pengunjung tidak hanya dituntut menikmati keindahan alam, tetapi juga menjaga kawasan dan menaati ketentuan yang berlaku.
“Kunjungan terbatas ke Taman Hidup tidak semata berbicara tentang membawa orang menikmati keindahan danau. Ada batas yang harus dihormati dan tanggung jawab yang harus dibawa pulang. Setiap aktivitas kunjungan harus tetap menempatkan perlindungan kawasan dan kelestarian ekosistem sebagai kepentingan utama,” tegasnya.
Ia berharap pembenahan dermaga dapat berjalan seiring dengan meningkatnya kesadaran pengunjung untuk menjaga kawasan. Sebab, keberadaan fasilitas yang kembali kokoh tidak akan berarti jika tidak dibarengi dengan perilaku yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Menurut Nur Patria, keindahan Taman Hidup pada dasarnya tidak bergantung pada keberadaan fasilitas buatan manusia. Justru manusia yang memiliki tanggung jawab untuk memastikan keindahan alam tersebut tetap terjaga.
“Dermaga boleh kita bangun kembali, tetapi yang jauh lebih penting adalah membangun kesadaran bersama agar Taman Hidup tetap hidup,” pungkasnya. (gus/hn)
Editor : Muhammad Fahmi