Posko Karhutla Bromo Resmi Ditutup, tapi Satu Helikopter Disiagakan

Achmad Arianto • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 20:57 WIB
MISI KOMPLIT: Posko karhutla yang dibangun BPBD di sekitar lautan pasir Bromo. Posko ini resmi dibubarkan sejak kemarin (18/8). (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)
MISI KOMPLIT: Posko karhutla yang dibangun BPBD di sekitar lautan pasir Bromo. Posko ini resmi dibubarkan sejak kemarin (18/8). (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

SUKAPURA, Radar Bromo-Hampir dua pekan kebakaran hutan dan lahan terjadi di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Api berangsur padam.

Setelah dua pekan, Posko Satuan Tugas Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan atau Karhutla Kawasan Bromo resmi ditutup pada Selasa (18/8). 

Kalaksa BPBD Jatim, Gatot Subroto mengatakan bahwa sebelum satgas ini ditutup tepat pada Selasa (18/8) pukul 09.30, petugas gabungan telah melakukan penyisiran di sejumlah lokasi yang sebelumnya terdampak kebakaran.

Pembasahan tetap dilakukan dengan bantuan satu helikopter untuk memastikan bara maupun titik panas tidak kembali memicu kebakaran.

“Setelah operasi ini berakhir, penyisiran kawasan dilanjutkan oleh pihak BB TNBTS. Helikopter BNPB maksimal beroperasi pada hari ini (Selasa, red). Setelah itu akan bergeser ke NTT, dan kembali ke Kalimantan Selatan untuk membantu kebakaran di sana. Sementara milik Provinsi Jatim masih bersiaga,” katanya.

Pihak BPBD Jatim juga akan melakukan penguatan sarana prasarana untuk tim. Sekaligus membantu pembenihan vegetasi yang sempat terbakar bersama TNBTS untuk meremajakan tanaman yang terbakar.

Sementara Danrem 083/Baladhika Jaya sekaligus Dansektor Penanganan Karhutla Wilayah Korem 083/Bdj Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan mengatakan, selama operasi seluruhnya berjalan lancar dan aman. Walapun ada tantangan di lapangan. “Semua berkat kerjasama dan koordinasi dengan lintas sektoral,” katanya.

Dalam dua pekan kebakaran, tercatat 1.121,66 hektare lahan dalam area TNBTS terdampak. Tantangan penanganan mulai dari kondisi medan, ketinggian yang terjal, dan kabut sempat menghalangi proses pemadaman termasuk upaya water boombing. Vegetasi yang kering juga menjadi bahan bakar bagi penyebaran api.

“Peralatan yang terbatas juga jadi kendala. Namun dengan kolaborasi antar seluruh pihak terkait, semuanya dapat terselesaikan,” ujarnya.

Wahyu berharap ke depannya ada sistem deteksi dini yang secara cepat dapat menangkap adanya titik panas atau api. Tentunya didukung dengan peralatakan canggih seperti CCTV, drone atau foto udara. “Terutama sosialisasi kepada masyarakat,” katanya.

Wahyu mengajak masyarakat untuk saling menjaga keasrian kawasan wisata Gunung Bromo. Jangan sampai ada pelanggaran yang memicu titik api lagi.

“Tempat ini bukan hanya milik warga lokal, namun telah menjadi atensi hingga masyarakat dunia. Semua ingin melihat keindahan Bromo,” ungkapnya.

Di sisi lain, potensi kebakaran hingga kini masih terus diwaspadai pemadam kebakaran (damkar) Kabupaten Probolinggo. Bukan hanya karhutla. Tetapi juga kebakaran lainnya. Hingga pekan ketiga Agustus saja,  4 wilayah terus diwaspadai dan rutin dilakukan pemantauan.

Kepala Bidang Pengendalian Bahaya Kebakaran dan Non Kebakaran Satpol PP Kabupaten Probolinggo Andrea Persaulian mengatakan, peningkatan pengawasan potensi kebakaran dilakukan karena beberapa hal.

Mulai dari lamanya musim kemarau dan kondisi angin yang berhembus di sebuah wilayah. Kondisi demikian membuat titik api berpotensi membesar sehingga terjadilah kebakaran.

“Masuk musim kemarau kebakaran berpotensi terjadi. Terlebih lagi diwilayah yang anginnya kencang,” katanya.

Sejauh ini damkar mewaspadai 4 wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi kebakaran. Diantaranya Kecamatan Gending, Tegalsiwalan, Pajarakan, dan Banyuanyar. Wilayah tersebut diwaspadai bukan hanya karena saat kemarau cukup kering. Tetapi juga karena angin yang berhembus di wilayah tersebut cukup kencang.

“Anginnya lebih kencang. Jika ada titik api kemudian terkena angin maka akan menjadi besar. Perlu dilakukan pemantauan secara rutin,” ucapnya.

Andrea menambahkan, ada beberapa objek yang menjadi atensi petugas untuk pemadaman. Yakni bangunan atau benda yang terbakar dekat dengan pemukiman penduduk. Sementara itu lahan atau tempat terbuka yang didominasi oleh rumput maupun ilalang dapat dengan mudah kering, maka potensi kebakaran pun mudah terjadi. Kondisi demikian diperparah dengan angin kencang sehingga patut untuk diwaspadai.

Petugas juga akan melakukan penanganan jika terjadi kebakaran. Tetapi hanya fokus pada pemadaman dengan titik api yang bisa dijangkau oleh kendaraan pemadam.

“Dalam hal pemadaman api, koordinasi dengan pihak terkait dan masyarakat perlu dilakukan. Harapannya api segera bisa tertangani, padam dan tidak sampai jatuh korban jiwa,” tuturnya. (gus/ar/fun)

Editor : Abdul Wahid
korem karhutla kebakaran bromo bpbd tnbts