SUKAPURA, Radar Bromo– Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) belum sepenuhnya berakhir.
Setelah secara umum mulai dapat dipadamkan sejak Jumat lalu, titik api sempat kembali muncul di Desa Ngadirejo, Sukapura, Kabupaten Probolinggo.
Titik api terpantau muncul sekitar pukul 19.30, Minggu (16/8) malam. Lokasinya di Blok Pusung Lingker. Tepat di bawah P30, masuk Desa Ngadirejo.
Kalaksa BPBD Kabupaten Probolinggo Oemar Sjarief mengatakan, api diduga berasal dari aktivitas pembakaran lahan atau ladang oleh masyarakat. Kemudian merambat ke vegetasi di sekitarnya.
“Syukur pada Senin (17/8) pagi, titik api telah berhasil dipadamkan,” katanya.
Meski kobaran api telah padam, tim gabungan tidak menghentikan penanganan. Medan yang terjal dan sulit dijangkau membuat bara yang tersisa berpotensi kembali menyala dan memicu kebakaran susulan.
Baca Juga: Kebakaran Bromo Padam, Puncak Seruni Point dan Jembatan Kaca Bromo Dibuka Lagi
Danrem 083/Baladhika Jaya sekaligus Dansektor Penanganan Karhutla Wilayah Korem 083/Bdj Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan mengatakan, pengecekan langsung tetap dilakukan di sejumlah lokasi. Termasuk Blok Pusung Lingker.
“Medan terjal dan sulit dijangkau, namun kami tetap mengecek langsung ke lokasi. Ini dilakukan untuk mengantisipasi munculnya kembali api akibat bara yang masih tersisa di bawah permukaan, maupun di antara material yang terbakar,” ujarnya.
Hingga hari ke-14 penanganan karhutla, luas kawasan TNBTS yang terdampak mencapai 1.121,66 hektare.
Rinciannya, di Bantengan Wetan, Kabupaten Lumajang 843 hektare. Lalu di Argowulan 75,61 hektare, kawasan Dingklik, Pakis Bincil, Mungal, dan Kedaluh dengan total 203,05 hektare. Semuanya di Kabupaten Pasuruan.
Menurut Wahyu, pemadaman secara umum telah berhasil dilakukan sejak Jumat (14/8).
Namun, operasi melalui jalur darat masih berlanjut untuk memastikan tidak ada bara tersisa. Sebab, keberhasilan pemadaman tidak hanya ditandai dengan hilangnya kobaran api.
“Personel juga tetap disiagakan untuk melakukan tindakan cepat apabila ditemukan kembali asap atau bara api,” ujarnya.
Kepala Balai Dalkarhut Jabalnusra, Bambang Setyo Antoko menambahkan, petugas dari Manggala Agni masih melakukan pendinginan di sejumlah areal bekas terbakar.
Tim juga bersiaga bersama masyarakat dan relawan untuk melakukan pemadaman serta mopping up di lokasi yang masih menyimpan panas.
“Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan bara benar-benar padam sehingga tidak kembali merambat ke kawasan lain,” terangnya.
Petugas juga mewaspadai pusaran angin lokal atau dust devil. Fenomena ini dapat mengangkat material ringan terbakar dan membawa bara ke lokasi lain.
Suharyono, Direktur Pendayagunaan Sumber Daya dan Pengamanan Hutan, Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Kementerian Kehutanan menegaskan, fokus saat ini memastikan seluruh area bekas terbakar aman. Serta tidak kembali menyimpan bara.
Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan Dwi Januanto Nugroho menambahkan, penanganan karhutla Bromo menjadi pelajaran penting menghadapi musim kemarau.
Masyarakat adalah pihak yang paling dekat dengan kawasan dan seringkali menjadi yang pertama mengetahui adanya gangguan.
“Masyarakat juga pihak yang paling terdampak ketika terjadi kebakaran. Karena itu, melindungi hutan harus dilakukan bersama masyarakat,” tegasnya. (gus/hn)
Editor : Muhammad Fahmi