KRAKSAAN, Radar Bromo - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) kembali menunjukkan rentannya kawasan konservasi itu terhadap api. Di tengah upaya pemadaman, pemerintah daerah mendorong pencegahan melalui edukasi warga, pemetaan risiko, dan sistem peringatan dini.
Bupati Probolinggo Mohammad Haris mengatakan, pencegahan tidak dapat hanya diarahkan kepada wisatawan. Warga yang tinggal di sekitar kawasan konservasi, termasuk masyarakat Tengger, perlu menjadi bagian dari upaya mencegah kebakaran.
Kata Haris, kebutuhan edukasi menjadi semakin penting ketika kawasan Bromo menghadapi cuaca panas dan kering yang disertai angin kencang. Kondisi tersebut dapat memperbesar risiko api meluas dan menyulitkan proses pemadaman.
Karena itu, pemerintah daerah mengusulkan agar penanganan karhutla tidak berhenti setelah api padam. Peta risiko kebakaran dan sistem peringatan dini perlu disiapkan untuk mengetahui lokasi yang memiliki tingkat kerawanan tinggi sekaligus mempercepat respons ketika muncul indikasi kebakaran.
”Kami juga berharap ada peta risiko, ada early warning untuk ke depan. Insyaallah nanti kami siap, pemerintah daerah untuk support penuh agar ini kemudian tidak terjadi lagi,” ujar Haris.
Kebutuhan tersebut menjadi relevan karena pemadaman di kawasan Bromo menghadapi persoalan medan.
Sejumlah titik api berada di lokasi yang sulit dijangkau pasukan darat, sementara kondisi angin dapat membuat api kembali menyebar.
Pemerintah mengerahkan tiga helikopter untuk melakukan water bombing. Sebanyak 30 kali penyiraman dari udara direncanakan untuk menjangkau titik-titik api yang tidak dapat ditangani dari darat.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan pemadaman dari udara menjadi salah satu upaya untuk menjangkau area yang sulit didatangi petugas. Keberhasilan operasi tersebut juga sangat bergantung cuaca.
”Mohon doa supaya cuaca terbaik, supaya nanti bisa genap 30 dan titik-titik api itu bisa dipadamkan. Terutama di kelerengan yang memang tidak bisa dijangkau oleh pasukan darat,” ujarnya.
Di darat, petugas membuat sekat bakar untuk menghambat pergerakan api. Namun, medan terjal dan angin kencang membuat pengendalian kebakaran menjadi lebih sulit.
Kebakaran juga belum sepenuhnya terlokalisasi di satu titik. Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyebut, muncul titik api tambahan di kawasan Penanjakan, tepatnya di Dingklik, Kabupaten Pasuruan.
”Seperti kita lihat ada satu titik tambahan lagi, jadi perluasan dari titik awal, tapi ada titik di Penanjakan. Tadi fokus heli water bombing, sekarang muncul lagi di situ di daerah Pasuruan, Dingklik namanya,” kata Emil.
Menurut Emil, pemadaman harus tetap menjadi prioritas, sementara penyebab kebakaran ditelusuri secara paralel oleh pihak yang berwenang. Persoalan penyebab menjadi penting karena pola kebakaran di kawasan wisata dan konservasi tidak hanya berkaitan dengan kondisi alam. Aktivitas manusia juga dapat menjadi sumber api, baik karena kelalaian maupun pembukaan lahan dengan cara membakar.
Menteri Kehutanan mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. ”Jangan ada lagi yang bermain api. Ini secara literal yang main api, apakah itu puntung rokok atau yang lebih nakal lagi land clearing, terutama di luar Jawa,” kata Raja Juli.
Penutupan sementara kawasan TNBTS dilakukan untuk memberi ruang bagi petugas berkonsentrasi pada pemadaman sekaligus mengurangi risiko keselamatan masyarakat. Namun, penutupan kawasan tidak menyelesaikan persoalan jangka panjang apabila langkah pencegahan tidak diperkuat.
Usulan peta risiko dan sistem peringatan dini karena itu menjadi pekerjaan lanjutan yang perlu diterjemahkan dalam mekanisme yang jelas. Wilayah mana yang paling rawan, siapa yang menerima peringatan, bagaimana informasi disebarkan, dan seberapa cepat petugas harus merespons.
Karhutla Bromo menunjukkan bahwa pengendalian kebakaran bukan semata persoalan memadamkan api setelah kebakaran terjadi. Kondisi kawasan yang kering, angin, medan terjal, serta potensi aktivitas manusia membuat sistem pencegahan dan deteksi dini menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko kebakaran berulang. (mu/fun)
Editor : Moch Vikry Romadhoni