Danrem 083/Bdj selaku Dansektor Penanganan Karhutla Wilayah Korem 083/Bdj Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan mengatakan, api sempat kembali terlihat Minggu (9/8) malam. Namun Senin pagi kondisi api berangsur padam.
Dua titik yang jadi fokus pendinginan yaitu di kawasan P30 (Pundak Lembu), Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo dan di Lembah Dingklik, Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.
Menurut Wahyu, kedua titik tersebut merupakan rembetan dari kebakaran sebelumnya.
Penanganan dilakukan melalui pemadaman dari udara menggunakan dua unit helikopter untuk melakukan water bombing.
Meski masih ditemukan asap dan titik api kecil, kondisi secara umum dinyatakan aman dan terkendali.
Selama proses pemadaman, menurutnya, tim gabungan menghadapi sejumlah kendala. Terutama kondisi medan dan cuaca.
Titik api yang berada di lereng dengan kemiringan ekstrem menjadi salah satu bagian yang paling sulit dijangkau petugas.
"Titik api yang ada di lereng, itu yang sulit dipadamkan. Kalau yang lokasinya datar sudah ditangani langsung," tuturnya.
Agar penanganan lebih cepat, dua helikopter kembali dioperasikan untuk water bombing Senin (10/8). Namun operasi udara sempat terkendala kabut tebal yang menurunkan jarak pandang secara signifikan.
Jarak pandang yang sebelumnya mencapai sekitar 5-7 kilometer, turun menjadi hanya sekitar 500 meter –1 kilometer. Kondisi tersebut membatasi ruang gerak helikopter saat bermanuver menuju titik api.
"Kabut bisa membatasi manuver heli. Di P30 saja tadi kesulitan karena kabut. Harusnya tadi pagi sudah selesai semua. Namun karena faktor alam, maka kami hanya bisa melakukan dua sortie atau sembilan run," terangnya.
Selain cuaca, pengambilan air untuk kebutuhan water bombing juga mengalami kendala.
Kondisi Ranu Pani yang dangkal membuat tim memindahkan lokasi pengambilan air ke Ranu Kumbolo.
Wahyu menargetkan, seluruh proses pemadaman dan pendinginan dapat diselesaikan secepat mungkin.
Meskipun api utama telah padam, proses pendinginan tetap dilakukan untuk memastikan tidak ada bara yang berpotensi kembali memicu kebakaran.
"Karena faktor alam, jadi masih ada asap. Ini harus langsung kami pastikan ke titik tersebut. Kendalanya juga ada di kelerengan yang kemiringannya mencapai 70 sampai 80 derajat," terangnya.
Untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api, petugas masih disiagakan selama 24 jam. Patroli dilakukan secara rutin, baik melalui jalur darat, maupun menggunakan drone untuk memantau kawasan yang sulit dijangkau.
Wahyu menyebut, dari total sekitar 742 hektare kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yang terdampak kebakaran, titik api aktif saat ini diperkirakan hanya tersisa sekitar 10 persen. Yaitu, di P30 dan Lembah Dingklik.
"Ini hanya sisa titik-titik kecil saja, sekitar 10 persen yakni di dua titik tadi. Tapi kami tetap waspada dan siaga. Patroli darat dan menggunakan drone tetap kami lakukan. Sebab kadang masih ada titik api yang ada di bawah dan bisa saja menyala lagi," pungkasnya.
Ia menegaskan, kewaspadaan akan terus dilakukan hingga kawasan benar-benar kondusif dan aman. Setelah kondisi dipastikan terkendali, aktivitas wisata di kawasan Gunung Bromo diharapkan dapat kembali dibuka. (gus/hn)
Editor : Muhammad Fahmi