TOSARI, Radar Bromo-Sampai Minggu malam (9/8), kebakaran Bromo masih belum benar-benar bisa dipadamkan. Kobaran api masih terlihat cukup besar di kawasan Dingklik dan Penanjakan, Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.
Pemerintah sejatinya berencana melakukan modifikasi cuaca untuk memadamkan api di kawasan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) itu. Namun, upaya itu tak bisa dilakukan dalam waktu dekat.
Hal tersebut diungkapkan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni saat meninjau kebakaran Bromo, Minggu siang (9/8).
Menurutnya, pihak kementerian sudah berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk melakukan modifikasi cuaca.
Sayangnya, upaya modifikasi cuaca belum dapat dilakukan dalam waktu dekat. Berdasarkan koordinasi dengan BMKG, menurutnya, modifikasi cuaca belum memungkinkan dilakukan hingga sekitar 10 hari ke depan.
“Tadi kami sudah koordinasi dengan BMKG. Secara matematis tidak dimungkinkan operasi tersebut. Jadi kami memaksimalkan water bombing dan pasukan darat,” katanya.
Dijelaskan Raja Juli, upaya pemadaman bakal dimaksimalkan lewat jalur udara dan darat.
Baca Juga: Kebakaran Bromo di Bukit Dingklik dan Penanjakan Tosari Pasuruan Membesar, Api Merembet ke Atas
Pemadaman oleh tiga helikopter water bombing akan dilakukan sebanyak 30 sortie atau penerbangan untuk penyiraman dari udara. Hingga saat ini, menurutnya, sudah mencapai 17 sortie.
“Semoga cuaca juga mendukung hari ini (kemarin, Red) agar titik api yang ada di kelerengan yang sulit dijangkau, dapat segera padam,” tuturnya.
Pemadaman kebakaran Bromo sendiri dilakukan secara terpadu dengan melibatkan berbagai unsur. Mulai BPBD dari empat wilayah, BNPB, BB TNBTS, TNI/Polri, hingga petugas pemadam kebakaran (damkar).
Sedikitnya, tujuh unit fire truck dikerahkan untuk mendukung pemadaman dari darat. Dua unit di antaranya didatangkan dari Mojokerto dan Surabaya.
Selain itu, sejumlah mobil tangki juga disiagakan untuk menyuplai kebutuhan air selama proses pemadaman.
“Ada tujuh fire truck yang kami turunkan. Dua di antaranya dari Mojokerto dan Surabaya, serta mobil tangki suplai air yang melakukan penanganan darat,” terang Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak yang juga meninjau lokasi, Minggu (9/8).
Penanganan juga dilakukan dari udara. Tim mengerahkan drone sprayer serta tiga helikopter water bombing yang mengambil air dari Ranu Pani dan Ranu Regulo. (gus/mie)
Editor : Muhammad Fahmi