SUKAPURA, Radar Bromo–Memasuki hari kelima, kobaran api yang melalap sejumlah wilayah di hutan dan lahan area sabana Gunung Bromo belum bisa dipadamkan sepenuhnya. Kobaran api masih terpantau di sejumlah titik.
Jumat (7/8), kobaran api tampak bergerak ke arah timur menuju kawasan P-30, Pudak Lembu, Desa Wonokerso, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo.
Dari pantauan Jawa Pos Radar Bromo di lokasi menunjukkan, asap masih mengepul dari beberapa puncak tebing yang sebelumnya dilalap api. Titik-titik api juga masih tampak menyala di lereng-lereng curam yang sulit dijangkau petugas darat.
Kalaksa BPBD Kabupaten Probolinggo Oemar Sjarief mengatakan, upaya pemadaman terus dilakukan secara intensif. Selain menggunakan metode pemadaman darat, pada Jumat (7/8), proses pemadaman diperkuat dengan bantuan helikopter water bombing dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan TNI Angkatan Laut (AL).
"Semoga dengan bantuan helikopter pemadaman bisa lebih maksimal dan api dapat padam hari ini. Sementara itu, tim di darat tetap melakukan pemadaman menggunakan gebyok pada titik-titik api yang masih bisa dijangkau," ujarnya.
Baca Juga: Padamkan Kobaran Api di Sabana Bromo, BNPB Turunkan Dua Unit Heli Water Bombing
Oemar menjelaskan, proses pemadaman menghadapi sejumlah kendala di lapangan. Medan berupa tebing yang curam membuat banyak titik api tidak dapat dijangkau oleh petugas.
Selain itu, embusan angin yang cukup kencang mempercepat perambatan api ke area vegetasi yang belum terbakar. "Di sisi lain, kabut dan keterbatasan sumber air juga menyebabkan mobil pemadam kebakaran tidak bisa bekerja secara maksimal," katanya.
Baca Juga: Indahnya Gugusan Gunung di P30 Pundak Lembu Sumber
Di samping melakukan pemadaman darat, penyemprotan udara menggunakan drone water sprayer DJI Agras juga terus dilakukan. Pantauan di lokasi menunjukkan, drone beberapa kali terbang mendekati titik api untuk menjatuhkan air ke area yang sulit dijangkau personel.
"Kami akan terus melakukan pemadaman sampai api benar-benar padam," tegas Oemar.
Helikopter Kesulitan Beroperasi
Sementara itu, Kalaksa BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto menyebutkan, sebanyak empat helikopter disiapkan untuk mendukung operasi pemadaman.
Dua di antaranya berasal dari TNI Angkatan Laut. Namun operasi helikopter TNI AL sempat terkendala saat mengambil air dari Ranu Pane.
"Bucket berkapasitas satu ton tidak dapat diangkat karena kondisi angin cukup kencang. Selain itu, jarak dan elevasi dari lokasi pengambilan air menuju titik kebakaran cukup tinggi, sehingga helikopter mengalami kesulitan untuk beroperasi," jelasnya.
Ada pun dua helikopter lainnya berasal dari BNPB. Satu unit sedang menjalani proses verifikasi di Bandara Abdulrachman Saleh, Malang, sebelum diterbangkan ke lokasi kebakaran. Sementara satu helikopter lainnya telah tiba di Banjarmasin dan dijadwalkan menyusul ke Bromo pada Sabtu (8/8).
Sekitar pukul 15.30 kemarin, satu helikopter BNPB akhirnya mulai melakukan operasi water bombing di kawasan Pusung Jantur, Desa Sariwani, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Meski memiliki kapasitas angkut hingga 1.000 liter, volume air yang dijatuhkan disesuaikan dengan kondisi medan.
"Kemungkinan tahap awal membawa sekitar 250 hingga 400 liter air terlebih dahulu sambil melihat kondisi medan karena wilayah ini cukup berat untuk operasi udara," kata Gatot.
Di sisi lain, Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Rudijanta Tjahja Nugraha mengatakan, luas area yang terbakar masih belum mengalami pembaruan dan masih tercatat sekitar 127 hektare berdasarkan data hingga Kamis (6/8) malam.
Menurutnya, upaya pemadaman dari darat tetap menjadi fokus utama dengan memanfaatkan berbagai peralatan, mulai dari selang mobil pemadam kebakaran, gebyok, jet shooter, hingga drone penyemprot air.
"Untuk pemadaman darat kami menggunakan selang dari mobil damkar, gebyok, serta jet shooter yang dicampur cairan pemadam api agar proses pemadaman lebih efektif dan api lebih cepat padam," jelasnya. (gus/mie)
Editor : Muhammad Fahmi