KRUCIL, Radar Bromo-Adanya insiden pendaki gunung Argopuro meninggal akibat hipotermia harus jadi perhatian bersama. Apalagi saat ini suhu di sejumlah wilayah Jawa Timur masih dingin-dinginnya, atau banyak menyebut mbediding.
Lalu apa itu hipotermia? Mengutip dari laman Alodokter, hipotermia adalah kondisi gawat darurat ketika suhu tubuh turun drastis hingga di bawah 35°C.
Situasi ini dapat membuat jantung dan organ vital lainnya tidak berfungsi dengan baik. Jika tidak segera ditangani, hipotermia dapat menyebabkan henti jantung, gangguan pernapasan, bahkan kematian.
Suhu tubuh normal manusia berkisar antara 36,5–37,3°C. Penurunan suhu tubuh umumnya terjadi saat seseorang terpapar suhu dingin ekstrem, baik dari udara maupun air, apalagi tanpa perlindungan pakaian yang memadai.
Dalam kondisi tersebut, suhu tubuh dapat turun drastis dan badan tiba-tiba menggigil sebagai respons alami tubuh terhadap dingin. Ketika tubuh kehilangan panas lebih cepat daripada menghasilkan panas, risiko hipotermia pun meningkat.
Penyebab Hipotermia
Hipotermia terjadi ketika panas yang dihasilkan tubuh tidak sebanyak panas yang hilang.
Ada beberapa pemicu yang membuat kondisi tubuh kita berpotensi mengalami hipotermia lantaran panas tubuh banyak hilang.
Yang pertama, yakni berada di tempat dingin dalam waktu yang lama. Bisa pula dipicu mengenakan pakaian yang kurang tebal saat cuaca dingin
Selanjutnya, terlalu lama mengenakan pakaian basah. Lalu, berada di dalam air terlalu lama, misalnya akibat kecelakaan kapal
Hipotermia dapat dialami oleh siapa saja. Namun, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami hipotermia.
Yakni, kelompok usia bayi, balita, dan lansia, kelelahan, gangguan mental, misalnya demensia, konsumsi minuman beralkohol, Penyalahgunaan NAPZA, Konsumsi obat-obatan, misalnya golongan opioid, obat bius, obat penenang, atau clonidine. Bisa pula konsumsi berlebihan hipotiroidisme, radang sendi, stroke, diabetes, atau penyakit Parkinson
Kenali Gejala Hipotermia
Agar penanganan hipotermia maksimal, kita harus mengantisipasinya sejak dini. Yakni, dengan mengalami gejala-gejalanya.
Gejala hipotermia bervariasi, mulai dari ringan hingga berat. Berikut ini merupakan gejala hipotermia berdasarkan derajatnya:
1. Gejala hipotermia ringan (suhu 32–35oC):
Pucat
Kulit terasa dingin ketika disentuh
Mati rasa
Menggigil
Respons menurun
Mengantuk
Takikardia
Napas cepat
2. Gejala hipotermia sedang (suhu 28–32oC):
Inkontinensia urine
Berhenti menggigil
Napas melambat
Denyut jantung melambat (bradikardia)
Tekanan darah menurun
Penurunan kesadaran
3. Gejala hipotermia berat (suhu 28oC atau lebih rendah):
Kaku otot
Tidak memberi respons
Bradikardia makin parah
Pernapasan dan denyut nadi sangat lemah
Pingsan
Henti jantung
Pada bayi, hipotermia dapat ditandai dengan kulit yang terasa dingin dan terlihat kemerahan. Bayi juga terlihat diam, lemas, dan tidak mau menyusu atau makan.
Tindakan Awal pada Penderita Hipotermia
Hipotermia adalah kondisi gawat darurat yang harus cepat ditangani. Segera cari pertolongan medis ke dokter di rumah sakit terdekat bila Anda mengalami atau melihat seseorang dengan gejala hipotermia seperti yang telah disebutkan di atas.
Jika ada orang yang memiliki gejala hipotermia, maka tindakan awal yang perlu dilakukan adalah memeriksa denyut nadi dan pernapasan. Jika denyut nadi dan pernapasannya sudah berhenti, maka lakukanlah tindakan resusitasi jantung paru (CPR) dan cari bantuan medis.
Berikut upaya untuk membuat suhu tubuh kembali normal:
Pindahkan penderita ke tempat yang lebih kering dan hangat secara hati-hati, karena gerakan yang berlebihan dapat memicu denyut jantungnya berhenti.
Ganti dengan pakaian yang kering jika pakaian yang dikenakannya basah.
Tutupi tubuh penderita dengan selimut atau mantel yang tebal agar hangat.
Berikan penderita minuman hangat dan manis jika ia sadar dan mampu menelan.
Berikan kompres hangat dan kering untuk membantu menghangatkan tubuhnya. Letakkan kompres di leher, dada, dan selangkangan. Hindari meletakkan kompres di lengan atau tungkai karena dapat menyebabkan darah yang dingin mengalir kembali ke jantung, paru-paru, dan otak.
Hindari penggunaan air panas, bantal pemanas, atau lampu pemanas untuk menghangatkan penderita. Panas yang berlebihan dapat merusak kulit dan menyebabkan detak jantung menjadi tidak teratur.
Temani dan pantau terus kondisi penderita hingga bantuan medis tiba. (mie)
Editor : Muhammad Fahmi