SUKAPURA, Radar Bromo-Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan di kawasan Sabana Bromo terus dilakukan. Untuk memperkuat penanganan pemadaman, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan dua unit helikopter water bombing.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan, dukungan pemadaman udara diperlukan karena banyak titik api berada di kawasan berbukit dan sulit dijangkau melalui jalur darat.
"Sementara kami akan mendukung dengan dua unit jenis tipe Mi atau Sikorsky. Namun menyesuaikan dengan ketersediaan unit," katanya.
Selain water bombing, BNPB juga menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang pelaksanaannya akan disesuaikan dengan kondisi cuaca dan kebutuhan penanganan di lapangan.
Suharyanto menyebut, pengalaman penanganan kebakaran Bromo pada 2023 menjadi acuan bahwa dua unit helikopter mampu membantu mempercepat pengendalian api.
Helikopter tersebut diketahui telah berangkat dari Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, Provinsi Kalimantan Tengah pada Kamis (6/8) pukul 09.12.
Namun hingga Kamis (6/8) sore, helikopter belum tiba di sabana Gunung Bromo.
Helikopter dijadwalkan transit di Surabaya sebelum menuju Kabupaten Malang.
Helikopter diperkirakan mulai beroperasi pada Jumat (7/8) siang untuk mendukung pemadaman dari udara.
Penanganan kebakaran juga mendapat dukungan dari Kementerian Kehutanan. Tim Manggala Agni bersama unsur gabungan terus dikerahkan untuk membatasi penyebaran api. Melindungi kawasan konservasi dari kerusakan yang lebih luas.
Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan Dwi Januanto Nugroho menegaskan, kebakaran di kawasan konservasi tidak hanya mengancam ekosistem hutan.
Namun juga berdampak terhadap kehidupan masyarakat yang bergantung pada fungsi ekologis kawasan.
Menurutnya, Bromo bukan hanya destinasi wisata. Namun juga kawasan konservasi yang menopang kehidupan masyarakat dan menjadi habitat berbagai jenis tumbuhan serta satwa. Karena itu, api harus segera dikendalikan, penyebabnya diungkap, dan kawasan dipulihkan.
“Masyarakat juga harus ikut berperan mencegah kebakaran dengan menjaga aktivitas di sekitar kawasan dan segera melaporkan jika menemukan tanda-tanda kebakaran," tegasnya.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Bambang Setyo Antoko mengatakan, strategi pemadaman terus disesuaikan dengan perkembangan di lapangan. Sebab, api masih aktif.
"Api masih aktif dan kondisi di lapangan terus berubah. Personel kami memprioritaskan sektor yang berpotensi menjadi jalur rambatan api dengan tetap mengutamakan keselamatan petugas," ujarnya. (gus/hn)
Editor : Muhammad Fahmi