WONOASIH, Radar Bromo - Memasuki musim kemarau, volume debit air sejumlah irigasi di wilayah Kota Probolinggo mulai menurun. Memicu kerawanan kekeringan lahan pertanian warga.
Guna mengantisipasi gagal panen, Pemkot Probolinggo bergerak cepat. Mengajukan bantuan pembangunan irigasi pompa (irpom) di dua titik strategis kepada Kementerian Pertanian (Kementan) RI.
Langkah ini diambil karena fasilitas irpom yang dimiliki daerah saat ini sangat terbatas. Kota Probolinggo baru memiliki satu titik irpom operasional. Padahal, kebutuhan air bagi para petani di pinggiran kota melonjak tajam saat pasokan air sungai menyusut.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPPP) Kota Probolinggo Fitriawati mengatakan, mesin pompa menjadi solusi paling realistis bagi petani agar tetap bisa mengairi sawahnya di tengah cuaca panas ekstrem.
“Saat kemarau seperti sekarang, tentu irigasi banyak yang kekurangan air, meski tidak sampai krisis air. Untuk itu, petani terpaksa menggunakan mesin pompa untuk mengairi sawahnya agar tanaman tidak mati,” katanya, Rabu (22/7).
Fitriawati mengatakan, satu-satunya irpom yang kini dikelola DKPPP telah terbukti memberikan dampak yang sangat besar bagi ketahanan pangan lokal.
Irpom itu berada di Kelurahan Sumbertaman, Kecamatan Wonoasih. Fasilitas ini menjadi penyelamat sektor pertanian di wilayah sekitarnya saat pasokan air irigasi teknis terhenti.
“Selama ini, fasilitas yang satu titik itu sangat dirasakan manfaatnya oleh petani. Petani yang sudah memiliki mesin pompa pribadi, mereka tidak kesulitan lagi mencari sumber airnya karena disokong oleh irpom tersebut," jelasnya.
Melihat tingginya efektivitas alat tersebut, Pemkot berharap usulan bantuan dua titik irpom baru ke Kementan RI dapat segera direalisasikan.
Tambahan infrastruktur ini dinilai krusial untuk memperluas cakupan area sawah yang terselamatkan, sekaligus menjaga stabilitas produksi padi di Kota Probolinggo.
“Kalau bangun sendiri irigasi pompa, butuh anggaran Rp 150 juta untuk satu titik,” ungkapnya. (mas/rud)
Editor : Fahreza Nuraga