TEGALSIWALAN, Radar Bromo- Suasana khidmat menyelimuti kawasan wisata Ronggojalu, Desa Banjarsawah, Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo, Minggu (19/7). Puluhan warga, perangkat desa, tokoh masyarakat, hingga unsur Forkopimcam bersimpuh mengelilingi petilasan Ki Ronggo dan Ki Jalu. Mengikuti tradisi ruwat mata air Ronggojalu.
Tradisi warisan turun-temurun ini digelar sebagai bentuk rasa syukur. Sekaligus, doa bersama agar mata Air Ronggojalu tetap lestari dan terus memberi manfaat bagi masyarakat.
“Tradisi ini sebenarnya sudah ada sejak dulu. Hanya saja belum pernah dilaksanakan semeriah sekarang. Ke depan kami berencana menjadikannya agenda tahunan," ujar Kepala Desa Banjarsawah R.M. Ahmad Wahyudi.
Prosesi diawali dengan kirab tumpeng dari pintu masuk kawasan wisata Ronggojalu menuju petilasan Ki Ronggo dan Ki Jalu, yang berjarak sekitar 200 meter. Arak-arakan berlangsung semarak dengan iringan kelompok karawitan Kendang Kenong Telok, yang menambah nuansa sakral sekaligus kental akan budaya lokal.
Di petilasan, seluruh peserta duduk bersila untuk memanjatkan doa bersama. Doa dipanjatkan sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus memohon keselamatan, keberkahan, serta kelestarian mata air Ronggojalu yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat.
“Selain berdoa memohon keselamatan dan kelestarian alam, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat silaturahmi antarwarga," kata Wahyudi.
Pelestarian mata air menjadi perhatian penting karena keberadaannya memiliki peran vital bagi kehidupan masyarakat. Air dari kawasan Ronggojalu tidak hanya dimanfaatkan warga Desa Banjarsawah, tetapi juga menjadi sumber kebutuhan air bersih bagi masyarakat di Kota dan Kabupaten Probolinggo.
"Air adalah sumber kehidupan. Mata air Ronggojalu memberi manfaat yang sangat besar bagi masyarakat. Karena itu kami berharap seluruh pihak atau stakeholder yang berkepentingan di kawasan ini turut mendukung upaya pelestariannya," tuturnya.
Camat Tegalsiwalan Hariyanto menilai tradisi ruwat mata air bukan sekadar ritual budaya. Melainkan, juga bentuk edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak masyarakat menjaga kebermanfaatan mata air sekaligus melestarikan tradisi yang menjadi bagian dari identitas daerah. Harapannya, tradisi seperti ini tetap terjaga dan dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya," ujarnya. (gus/rud)
Editor : Fahreza Nuraga