Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Siswa Baru SDN Ledokombo I di Sumber Probolinggo Isi MPLS dengan Ngambeng

Inneke Agustin • Kamis, 16 Juli 2026 | 08:16 WIB
TRADISI: Puluhan murid SDN Ledokombo I, Desa Ledokombo, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo, melaksanakan tradisi Ngambeng di sekolah, Selasa (14/5). (WIDO MAHENDRA FOR JAWA POS RADAR BROMO)
TRADISI: Puluhan murid SDN Ledokombo I, Desa Ledokombo, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo, melaksanakan tradisi Ngambeng di sekolah, Selasa (14/5). (WIDO MAHENDRA FOR JAWA POS RADAR BROMO)

SUMBER, Radar Bromo - Ada yang unik dalam Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SDN Ledokombo I, Desa Ledokombo, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo.

Selasa (14/5) pagi, puluhan siswa serta guru datang menggunakan baju adat Tengger. Mereka membawa sajen atau banten untuk dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Mereka hendak melaksankaan tradisi Upacara Ngambeng, sebagai ungkapan rasa syukur atas selesainya ujian, kenaikan kelas, sekaligus menyambut tahun ajaran baru. Tradisi ini dilaksanakan setiap tahun sejak sekolah tersebut berdiri.

Guru Pendidikan Agama Hindu SDN Ledokombo I Wido Mahendra mengatakan, tradisi Ngambeng juga memiliki makna yang sejalan dengan nilai Upanayana dalam ajaran Hindu.

Yaitu, proses penyucian diri dan pembinaan menuju kehidupan yang lebih baik melalui pendidikan, disiplin, dan pengendalian diri.

“Melalui tradisi ini, peserta didik diharapkan tidak hanya berkembang dalam aspek akademik, tetapi juga memiliki sradha atau keyakinan, bhakti, dan budi pekerti luhur, serta tanggung jawab sebagai generasi penerus yang berlandaskan nilai-nilai dharma,” terangnya.

Wido mengatakan, tradisi diikuti oleh seluruh murid mulai kelas I hingga kelas VI serta para guru yang beragama Hindu. Bagi yang beragama Islam, mengisi tradisi ini dengan mengaji bersama.

“Kegiatan ini dimulai dengan berdoa bersama yang dipimpin oleh Romo Dukun Pandhita. Sementara, bagi yang agama Islam didampingi guru-guru yang juga beragama Islam. Setelah itu, kami makan bersama untuk merekatkan rasa persaudaraan dan kebersamaan juga antara siswa dan guru,” jelasnya. (gus/rud)

Editor : Fahreza Nuraga
ledokombo mpls sumber probolinggo