
INSTITUT Ahmad Dahlan (IAD) Probolinggo mengambil langkah strategisnya jauh maju ke depan. Perguruan tinggi yang berdiri di Kelurahan/Kecamatan Kedopok, ini menjadi pelopor perguruan tinggi yang mempersiapkan para mahasiswa dan alumninya kompeten berkarir di luar negeri, khususnya Jepang.
Upaya ini menyusul dilakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara IAD Probolinggo dengan BRIXA Indonesia di Masjid Putih Al Qasem IAD Probolinggo, Rabu (1/7). Sedikitnya, 500 mahasiswa yang kini semester IV dan VI, mendapatkan Sosialisasi Persiapan Kerja di Jepang bersama Tim Pengembang Global Employability Kemdiktisainristek RI.
Peran perguruan tinggi tidak hanya mencetak ijazah akademik para mahasiswanya. Tetapi juga mempersiapkan lulusan profesional yang linier dengan kebutuhan perusahaan bahkan di luar negeri.
Prof. Dr. Tulus Winarsuno dari Kemendiktisainristek RI menjelaskan, Kemendiksainristek RI menawarkan program pelatihan untuk berkarir di Jepang, untuk semua kampus di Indonesia. “Kami telah membentuk satuan tugas Paspos untuk Global Employability kelulusan perguruan tinggi. Kami berharap seluruh perguruan tinggi kini mempunyai jalan baru bagaimana mengatasi persoalan-persoalan karir mahasiswanya,” ujarnya.
Guru Besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini mengatakan, program pelatihan ini mulai dicanangkan di seluruh perguruan tinggi.
“Kabar baiknya, satu-satunnya universitas di Indonesia yang melaksanakan program pelatihan berkarir di Jepang adalah Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Bekerja sama dengan BRIXA Indonesia. Program ini kemudian kami jadikan model bagi perguruan tinggi lainnya. Jadi, sudah tidak perlu coba-coba lagi, sebab program ini sudah teruji. UMM sendiri telah menjalankan program pelatihan ini selama 10 tahun,” jelasnya.
Kuota training center program ini antara 180-200 peserta bagi mereka yang berumur 18 sampai 28 tahun. Menggunakan model boarding school fokus pada bahasa dan kompetensi (skill). Biayanya mencapai Rp 45 juta. Namun yang dibayarkan hanya Rp 2,5 juta. Sisanya bisa diangsur hingga 10 bulan saat sudah diterima dan berkarir di Jepang.
“Mulai tahun ini, di semester IV-V, mahasiswa yang sudah berminat bekerja di luar negeri dengan beberapa tawaran profesi ini, kami akan didik para mahasiswa-mahasiswa dengan menggunakan bahasa Jepang. Selama intensif satu tahun penuh akan mengukuti kursus bahasa Jepang, sehingga ketika masuk BRIXA Indonesia, ruang tunggu itu tidak lama dan sudah siap dengan soft skill, sehingga bisa langsung bekerja,” ujar Rektor IAD Probolinggo Assoc. Prof. Dr. Benny Prasetiya, M.Pd.I.
Pihaknya juga berinisiatif para mahasiswa yang siap berangkat untuk pembayaran awal, khusus mahasiswa KIP akan ditanggung oleh kampus. “Tentu ini kesempatan terbatas,” ujarnya.
Sementara itu, Reza dari BRIXA Indonesia menjelaskan apa saja yang perlu diperhatikan, proses, dan alur dari awal mahasiswa atau alumni jika ingin mendaftar hingga ditempatkan dan berkarir di Jepang.
“BRIXA Indonesia telah memiliki jaringan lebih dari 200 perusahaan di Jepang. Tingginya kebutuhan tenaga kerja di Jepang, kini sangat dipengaruhi oleh demografi. Tentu ini menjadi peluang besar bagi SDM Indonesia untuk memanfaatkannya agar bisa berkembang dan berkarir di Jepang,” ungkapnya. (el/adv)
Editor : Fahreza Nuraga