Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

13 Kecamatan di Kabupaten Probolinggo Ini Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan, BPBD Tingkatkan Kewaspadaan

Achmad Arianto • Kamis, 2 Juli 2026 | 20:53 WIB
SIAGA: BPBD Kabupaten Probolinggo bersama instansi terkait melaksanakan apel siaga karhutla di Lautan Pasir Gunung Bromo di Blok Bungkah, Cemorolawang, Kecamatan Sukapura, beberapa waktu lalu.
SIAGA: BPBD Kabupaten Probolinggo bersama instansi terkait melaksanakan apel siaga karhutla di Lautan Pasir Gunung Bromo di Blok Bungkah, Cemorolawang, Kecamatan Sukapura, beberapa waktu lalu.

 

DRINGU, Radar Bromo – Sebanyak 13 wilayah di Kabupaten Probolinggo telah dipetakan sebagai zona rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), seiring mulai masuknya musim kemarau. BPBD Kabupaten Probolinggo mengingatkan potensi kebakaran akan terus meningkat, terutama saat puncak kemarau.

Di Kabupaten Probolinggo sendiri, saat ini intensitas curah hujan terus berkurang sebagai pertanda mulai terjadinya kemarau. Berkurangnya curah hujan membuat suhu lingkungan semakin panas, dalam jangka panjang membuat ketersediaan air menurun.

“Karena ketersediaan air menurun, kawasan hutan dan lahan menjadi lebih kering. Sehingga lebih mudah terbakar,” terang Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Probolinggo Oemar Sjarief.

Karena itu, menurutnya, potensi karhutla menjadi salah satu ancaman yang harus diantisipasi sejak awal musim kemarau. Potensi itu akan terus meningkat saat puncak kemarau yang diprediksi terjadi pada Agustus-September.

Sebagai langkah antisipasi, BPBD Kabupaten Probolinggo telah memetakan kawasan rawan karhutla tahun ini. Total ada 13 kecamatan yang dinilai memiliki tingkat kerawanan tinggi. Meliputi Kecamatan Sukapura, Lumbang, Gading, Pakuniran, Kotaanyar, Krucil, Tiris.

Selanjutnya Paiton, Gending, Banyuanyar, Wonomerto, Sumber, dan Kuripan.

Menurut Oemar, pemetaan tersebut disusun berdasarkan catatan kejadian karhutla yang pernah terjadi di wilayah-wilayah tersebut. Karena itu, tingkat kewaspadaan selama musim kemarau harus terus ditingkatkan terutama di 13 wilayah itu.

Baca Juga: Kebakaran Hutan Mulai Datang, Lima Hektare Lahan di Lereng Arjuno Dilalap Api

“Pemetaan dilakukan berdasarkan insiden yang pernah terjadi. Dengan demikian, kewaspadaan saat kemarau perlu ditingkatkan,” ucapnya.

Ia menjelaskan, kondisi hutan dan lahan yang mengering membuat kawasan tersebut sangat rentan terbakar. Setitik api dapat berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar dan berdampak terhadap ekosistem lingkungan. Baik itu akibat kelalaian masyarakat saat membakar sampah, maupun karena faktor alam.

Karena itu, upaya mitigasi seperti pemataan perlu dilakukan agar karhutla dapat dicegah sejak dini. Selain itu, BPBD juga menyiapkan langkah penanganan apabila kebakaran terjadi sewaktu-waktu.

Tim Reaksi Cepat (TRC) disiagakan untuk mempercepat proses pemadaman. Koordinasi dengan instansi terkait juga terus dilakukan agar penanganan karhutla berjalan lebih maksimal.

Namun pencegahan, menurut Oemar, tidak cukup hanya mengandalkan kesiapsiagaan petugas. Kesadaran masyarakat juga menjadi faktor penting dalam menekan risiko karhutla.

“Karena itu, sosialisasi terus dilakukan agar masyarakat memahami potensi bahaya kebakaran. Juga agar  tidak sembarangan menyalakan api atau meninggalkan api yang masih menyala,” tuturnya.

Sebab, tindakan yang dianggap sepele tersebut justru dapat menjadi pemicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

Sejatinya, sejak masuk kemarau sudah kami waspadai. Kewaspadaan karhutla meningkat saat puncak kemarau yang diprediksi terjadi bulan Agustus dan September,” pungkasnya. (ar/hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#karhutla #bpbd #kebakaran hutan dan lahan #probolinggo