SUKAPURA, Radar Bromo-Sabtu ini 27 Juni 2026, jembatan kaca Bromo mulai soft opening. Bagaimana perawatan jembatan kaca kedepan?
General Manager The Lawu Group Achmad Ridho sebagai pengelola mengatakan, pihaknya telah menyiapkan sistem pemeliharaan khusus.
Perawatan jembatan tidak akan diserahkan kepada pihak ketiga, melainkan ditangani oleh tim internal yang siaga setiap hari.
“Tim ini juga diperkuat dua personel bentukan BGTS yang sebelumnya terlibat dalam pembangunan Jembatan Kaca Seruni Point. Dengan demikian, inspeksi dan pendampingan teknis dapat dilakukan secara rutin oleh tenaga yang memahami karakteristik konstruksi jembatan,” jelasnya.
Kepala Disporapar Kabupaten Probolinggo Heri Mulyadi optimistis kehadiran Jembatan Kaca Seruni Point akan menjadi daya tarik baru bagi pariwisata Bromo.
Dari atas jembatan, wisatawan dapat menikmati panorama Gunung Bromo, Gunung Semeru, dan Gunung Batok dari sudut pandang yang berbeda.
"Bayangkan, kemegahan Gunung Bromo, Gunung Semeru, dan Gunung Batok bisa dinikmati dalam satu frame sekaligus dari atas jembatan kaca transparan," ujarnya.
Baca Juga: Sabtu Besok 27 Juni Jembatan Kaca Seruni Point Bromo Soft Opening, Ini Hasil Uji Kelayakannya
Ia berharap, beroperasinya Jembatan Kaca Seruni Point juga mampu mengoptimalkan pemanfaatan Barang Milik Daerah (BMD).
Juga meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar.
"Dengan adanya jembatan kaca ini, wisatawan memiliki alternatif destinasi selain mengunjungi Bromo. Kami berharap jumlah kunjungan meningkat sehingga memberi dampak positif bagi ekonomi masyarakat," jelasnya.
PPK BGTS Kementerian PUPR Agung Wahyudi memastikan, Jembatan Kaca Seruni Point telah memenuhi aspek keamanan. Menurutnya, hasil pengujian laboratorium maupun simulasi beban menunjukkan konstruksi jembatan layak dilintasi pengunjung.
Agung menjelaskan, jembatan kaca menggunakan lantai laminated glass. Yakni perpaduan tempered glass dengan lapisan Sentry Glass Plus (SGP).
Komposisinya terdiri atas kaca setebal 12 milimeter, lapisan SGP 1,52 milimeter, dan kaca 12 milimeter. Sehingga memiliki ketebalan total 25,52 milimeter.
Setiap panel kaca berukuran 1,8 x 1,5 meter dan memiliki bobot sekitar 180 kilogram.
Berdasarkan hasil uji laboratorium, lapisan kaca bagian bawah baru pecah pertama setelah menerima beban sebesar 6.290 kilogram atau sekitar 6,2 ton.
Pengujian kemudian dilanjutkan hingga lapisan kaca bagian atas pecah pada beban 3.980 kilogram atau sekitar 3,9 ton.
"Selain uji ekstrem hingga kaca hancur di laboratorium, kami juga melakukan simulasi beban operasional harian. Kaca dinaiki delapan orang dewasa secara bersamaan hingga dilakukan simulasi menggunakan bantalan karet jembatan. Hasilnya tidak ditemukan retak maupun kerusakan," tegasnya.
Ia menambahkan, umur rencana Jembatan Kaca Seruni Point diperkirakan 50 tahun. Usia tersebut lebih panjang dibandingkan umur rencana jembatan gantung pada umumnya yang berkisar 20 tahun. (gus/hn)
Editor : Muhammad Fahmi