MAYANGAN, Radar Bromo - Selama sebulan beroperasi, kondisi keuangan PT Perseroda Bahari Tanjung Tembaga (BTT) Kota Probolinggo dalam kondisi merugi. Hingga Juni 2026, perseroda tersebut membukukan kerugian berjalan sekitar Rp 700 juta.
Kondisi itu terungkap saat Komisi II DPRD Kota Probolinggo melakukan sidak ke kantor PT Perseroda Bahari Tanjung Tembaga (BTT) di Mayangan, Kamis (18/6).
Saat sidak itu, diketahui pendapatan perusahaan baru mencapai sekitar Rp 80 juta sejak beroperasi pada Mei lalu.
Ketua Komisi II DPRD Kota Probolinggo Ryadlus Sholihin Firdaus menegaskan, PT Perseroda BTT memang mencatat kerugian berjalan.
Namun menurutnya, kondisi keuangan masih dalam batas wajar untuk perusahaan yang baru memulai operasional.
“Dari total penyertaan modal sekitar Rp 6 miliar, masih terdapat lebih dari Rp 2 miliar yang belum digunakan,” terangnya.
Karena itu, ia mendorong percepatan kinerja perusahaan agar target Pendapatan Asli Daerah (PAD) dapat tercapai.
PT BTT sendiri menargetkan kontribusi PAD sekitar Rp 200 juta pada 2026, sejak beroperasi pada Mei.
“Posisi keuangan saat ini memang masih rugi berjalan sekitar Rp 700 juta. Kondisi itu terjadi karena perusahaan baru beroperasi dan baru ada pendapatan di bulan sekarang. Sedangkan biaya operasional, gaji, dan lainnya sudah terjadi sejak berdirinya PT BTT,” terangnya.
Namun Ryadlus menegaskan, PT BTT sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang telah menerima penyertaan modal dari APBD 2026 harus diawasi secara ketat.
Kondisi perusahaan, menurutnya, nantinya juga jadi bahan pertimbangan bagi DPRD. Apakah penyertaan modal total Rp 18,4 miliar bisa digelontorkan lebih awal atau ditahan.
Direktur PT BTT Kota Probolinggo Noviyadi menjelaskan, perusahaan baru efektif berjalan sekitar satu bulan terakhir setelah sebelumnya menyelesaikan berbagai regulasi pendirian.
Ia menyebut, saat ini PT BTT memiliki lima unit armada truk. Terdiri atas dua unit baru dan tiga unit bekas.
“Rugi berjalan itu hal yang wajar dalam pembukuan akutansi. Karena di awal, kami memang banyak beban pembelanjaan. Rugi berjalan sekitar Rp 700 juta itu dari awal sampai bulan Juni,” terangnya.
Noviyadi juga memaparkan bahwa beban operasional gaji perusahaan saat ini berada di angka sekitar Rp 68 juta.
Pendapatan mulai terbentuk seiring beroperasinya empat unit armada, yang hingga kini telah menghasilkan sekitar Rp 80 juta.
“Untuk pendapatan akan diketahui secara lengkap selama bulan Juni,” ujarnya.
Meski masih mencatat kerugian, manajemen PT BTT tetap optimistis dapat mencapai target kontribusi PAD.
“Target PAD untuk tahun ini, dihitung sejak bulan Juni saat kami mulai beroperasi. Kami targetkan optimistis bisa sumbang PAD sekitar Rp 200 juta murni ke pemkot,” kata Noviyadi. (mas/hn)
Editor : Muhammad Fahmi