Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Semarakkan Malam 1 Muharam, Ribuan Warga Sukapura-Sumber Probolinggo Gelar Pawai Obor

Inneke Agustin • Rabu, 17 Juni 2026 | 09:33 WIB
SEMARAK: Ribuan warga Desa/Kecamatan Sukapura saat melakukan pawai obor memperingati malam 1 Muharam 2026, Senin (15/6) malam. (PEMDES SUKAPURA FOR JAWA POS RADAR BROMO)
SEMARAK: Ribuan warga Desa/Kecamatan Sukapura saat melakukan pawai obor memperingati malam 1 Muharam 2026, Senin (15/6) malam. (PEMDES SUKAPURA FOR JAWA POS RADAR BROMO)

SUKAPURA, Radar Bromo - Ribuan warga di Kecamatan Sukapura dan Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo, begitu antusias menyambut malam Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah. Senin (15/6) malam, mereka menggelar pawai obor. Tradisi turun-temurun ini berlangsung meriah. Serta, menjadi momentum mempererat kebersamaan warga.

Di Desa Sukapura, sekitar 1.000 warga turun ke jalan mengikuti pawai obor. Baik laki-laki maupun perempuan, mulai anak-anak hingga orang dewasa. Mereka berbusana muslim membawa obor sebagai simbol penerangan dan harapan memasuki tahun baru Islam.

Sekretaris Desa Sukapura Totok Sumali mengatakan, kegiatan ini merupakan tradisi tahunan yang telah lama dilaksanakan masyarakat. Namun sempat terhenti selama beberapa tahun akibat Pandemi Covid-19. “Tahun ini baru kami laksanakan kembali. Alhamdulillah antusias warga sangat tinggi," ujarnya.

Pawai dimulai dari Patung Selamat Datang Sukapura dan berakhir di kawasan rest area dekat Mapolsek Sukapura. Sepanjang perjalanan sejauh kurang lebih dua kilometer, peserta berjalan tertib dengan pengawalan dari personel Polsek Sukapura, Koramil Sukapura, serta Banser.

Menurut Totok, kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana syiar Islam. Tetapi juga untuk memperkuat rasa persaudaraan dan solidaritas masyarakat. “Harapannya melalui acara ini dapat terpelihara rasa solidaritas warga, sekaligus menjadi sarana berdoa untuk keselamatan dan kesejahteraan seluruh masyarakat," katanya.

Semangat serupa juga terlihat di Desa/Kecamatan Sumber. Sekitar 250 warga mengikuti pawai obor dengan berjalan kaki mengelilingi jalan-jalan desa sejauh kurang lebih satu kilometer. “Ini memang sudah menjadi agenda rutin dalam tiga tahun terakhir. Tujuannya untuk melestarikan budaya Islam yang ada di desa kami," ujar salah satu panitia kegiatan, Sugeng Wahyudiono.

Ia berharap momentum tahun baru Islam dapat menjadi pengingat bagi masyarakat untuk terus menjaga kerukunan dan membawa perubahan positif bagi lingkungan sekitar.

“Harapannya, dengan datangnya tahun baru ini, umat Islam dapat terus menjaga kerukunan serta membawa perubahan yang lebih baik bagi desa maupun negara,” katanya. (gus/rud)

 

Adanya Perbedaan Sunnatullah

 

PERINGATAN 1 Muharram 1448 Hijriah berlangsung di tengah adanya perbedaan penetapan awal bulan Muharram 1448 Hijriah. Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) melalui hasil rukyatul hilal, Senin (15/6), menyatakan hilal tidak terlihat di seluruh lokasi pemantauan. Berdasarkan metode istikmal, awal Muharram 1448 Hijriah ditetapkan jatuh pada Rabu (17/6).

Ketua PC NU Kota Probolinggo Arbai Hasan mengatakan, perbedaan waktu dalam memperingati malam 1 Muharram merupakan hal yang wajar dan tidak perlu dipersoalkan. “Sesuai ijtihad masing-masing, yang penting memiliki dasar dan tidak perlu diperdebatkan. Yang terpenting niatnya untuk melakukan kebaikan. Perbedaan itu indah dan merupakan rahmat. Tidak semua harus diseragamkan," ujarnya.

Menurut Arbai, masyarakat perlu diberikan pemahaman, bahwa perbedaan dalam penentuan kalender Islam merupakan sesuatu yang lumrah. “Sunnatullah memang adanya perbedaan. Karena itu, mari melihat sisi positifnya dan menjaga kerukunan di tengah keberagaman pandangan,” ajaknya. (gus/rud)

Editor : Fahreza Nuraga
#obor #hijirah #suro #tahun baru #pawai