Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kadisah Desa Krejengan-Probolinggo Bertahan di Tengah Tekanan Ekonomi

Agus Faiz Musleh • Rabu, 17 Juni 2026 | 09:29 WIB
SELAMATAN DESA: Prosesi kadisah yang dilaksanakan di Desa/Kecamatan Krejengan, Selasa (16/6). (AGUS FAIZ MUSLEH/JAWA POS RADAR BROMO)
SELAMATAN DESA: Prosesi kadisah yang dilaksanakan di Desa/Kecamatan Krejengan, Selasa (16/6). (AGUS FAIZ MUSLEH/JAWA POS RADAR BROMO)

KREJENGAN, Radar Bromo- Peringatan 1 Muharam 1448 Hijriah juga begitu meriah di Desa/Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo. Kegiatan ini sekaligus menjadi puncak tradisi Kadisah atau Selamatan Desa Krejengan.

Namun, ada yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jumlah gunungan yang diarak dalam acara ini berkurang. Jika tahun lalu seluruh 16 rukun tetangga (RT) terlibat membuat gunungan, tahun ini hanya enam gunungan utama yang disiapkan tingkat RW. Ditambah tiga gunungan partisipasi warga.

Sejak Senin (15/6) malam, warga enam dusun berkumpul di rumah kepala dusun maupun tokoh masyarakat untuk menyusun hasil bumi menjadi gunungan. Jagung, sayuran, buah-buahan, hingga hasil perkebunan ditata bersama untuk diarak pada puncak peringatan 1 Muharam 1448 Hijriah, Selasa (16/6).

“Tahun ini gunungan memang sedikit berkurang dibandingkan tahun sebelumnya. Saat ini panitia membatasi pada tingkat RW sebanyak enam gunungan ditambah tiga gunungan partisipasi masyarakat. Menyesuaikan kondisi saat ini yang bertepatan dengan musim tanam tembakau serta kondisi ekonomi yang dihadapi masyarakat,” ujar Kepala Desa Krejengan Nurul Huda.

Keesokan paginya, ribuan warga memadati sepanjang jalan desa. Menyaksikan kirab jodang dan gunungan yang menjadi puncak Kadisah. Puluhan pengusung berjalan mengarak hasil bumi menuju pendapa desa. Diiringi tabuhan ronjengan yang menghadirkan kembali suasana khas pedesaan Jawa.

Setibanya di balai desa, gunungan dan jodang dikumpulkan untuk didoakan bersama sebagai ungkapan syukur masyarakat atas keselamatan, rezeki, dan persaudaraan. Prosesi kemudian ditutup dengan gerebek gunungan. Dalam hitungan detik, isi gunungan menjadi rebutan warga yang meyakini hasil bumi tersebut membawa berkah.

Di tengah prosesi itu, Bupati Probolinggo Gus dr. Mohammad Haris turut hadir. Di sela kirab, ia sempat ikut memikul jodang bersama warga. Haris menegaskan, Kadisah tidak semestinya dipahami sebatas tontonan budaya.

“Ini tidak hanya sekadar sebuah tradisi selamatan desa, tetapi bentuk rasa syukur masyarakat atas rezeki, penghidupan, persaudaraan, semuanya yang selama ini sudah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa kepada kita semua. Jadi bukan hal yang perlu disalahartikan karena dalam rangkaian ini juga ada haul, salawat Nabi, dan doa bersama," ujarnya. (mu/rud)

Editor : Fahreza Nuraga
#Krejengan #Muharam #hijriah #probolinggo