Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Peternak Ayam Petelur di Probolinggo Resah: Harga Telur Anjlok, Harga Pakan Malah Naik

Inneke Agustin • Kamis, 11 Juni 2026 | 11:44 WIB
TERNAK: Salah satu pengurus peternakan ayam petelur asal Desa Tigasan Kulon, Kecamatan Leces, Sunan Saifurrahman, 38, menunjukkan hasil telur dari peternakannya (Inneke Agustin/ Radar Bromo)
TERNAK: Salah satu pengurus peternakan ayam petelur asal Desa Tigasan Kulon, Kecamatan Leces, Sunan Saifurrahman, 38, menunjukkan hasil telur dari peternakannya (Inneke Agustin/ Radar Bromo)

 

PROBOLINGGO, Radar Bromo-Peternak ayam petelur di Probolinggo tengah menghadapi masa sulit. Harga telur ayam terus melemah beberapa bulan terakhir.

Kondisi itu membuat keuntungan mereka tergerus. Di sisi lain, biaya produksi, terutama pakan ternak, justru melonjak.

Sunan Saifurrahman, 38, salah satu pengurus peternakan ayam petelur di Desa Tigasan Kulon, Kecamatan Leces, mengatakan, harga telur mulai turun setelah Idul Adha. Saat ini harga telur di tingkat peternak hanya Rp 22.000 - Rp 23.000 per kilogram.

“Padahal sebelumnya masih di kisaran Rp 24.500 hingga Rp 25.000 per kilogram. Bahkan saat Ramadan lalu sempat menyentuh angka Rp 29.000 per kilogram,” ujarnya.

Kondisi itu, menurut Sunan, membuat peternak nyaris tidak dapat keuntungan. Pendapatan yang diperoleh sebagian besar hanya cukup untuk menutupi biaya operasional, terutama kebutuhan pakan.

“Dengan harga sekarang, hasilnya hanya untuk menutup biaya pakan. Jadi masih pak-pok, belum untung,” katanya.

Ia menilai melemahnya harga telur dipicu turunnya daya beli masyarakat. Kondisi tersebut menyebabkan pasokan telur di pasar menumpuk, sehingga harga telur terus tertekan.

Baca Juga: Harga Daging Ayam di Probolinggo Naik tapi Telur Turun

Untuk menyiasati kondisi tersebut, pihaknya berupaya menjual telur langsung ke toko-toko daripada ke tengkulak atau tenaga penjual. Sehingga bisa mendapat sedikit selisih harga.

“Kalau dijual langsung ke toko masih bisa sekitar Rp 23.000 per kilogram. Kalau lewat tengkulak atau sales biasanya hanya Rp 22.000. Kami juga belum tahu sampai kapan harga seperti ini akan bertahan,” terangnya.

Kondisi serupa dirasakan peternak ayam petelur asal Desa Warujinggo, Kecamatan Leces. Roki Sirajuddin, 28, mengaku harga telur terus menurun setelah Idul Fitri.

Saat momen Lebaran, harga telur masih di kisaran Rp 27.500 per kilogram. Namun kini hanya Rp 23.000 per kilogram. Menurutnya, fluktuasi harga telur juga berlangsung cukup cepat dan bisa berubah setiap beberapa hari.

Menurutnya, turunnya harga telur semakin memberatkan peternak karena biaya pakan justru mengalami kenaikan.

Harga pakan yang sebelumnya Rp 415.000 per sak dengan berat 50 kilogram kini naik menjadi Rp 430.000 per sak.

“Naik sekitar Rp 15.000 per sak. Sementara untuk populasi sekitar 900 ekor ayam, kami membutuhkan dua sak pakan setiap tiga hari sekali,” katanya.

Untuk mengurangi potensi kerugian, Roki melakukan sejumlah efisiensi. Salah satunya, segera mengganti ayam yang tidak produktif agar tingkat produksi telur tetap optimal.

 “Upaya kami agar tidak merugi yaitu segera mengganti ayam yang tidak produktif supaya hasil telur maksimal. Untuk sementara juga masih mengandalkan keuntungan yang didapat saat harga telur masih bagus,” tuturnya. (gus/hn)

 

Editor : Muhammad Fahmi
#peternak ayam petelur #probolinggp #harga pakan #harga telur