SUKAPURA, Radar Bromo - Ritual larung sajen ke kawah Gunung Bromo menjadi puncak sekaligus bagian yang tidak terpisahkan dari Perayaan Yadnya Kasada. Senin (1/6), dalam tradisi turun-temurun ini, masyarakat Hindu Tengger melarung berbagai hasil bumi dan ternak.
Persembahan itu dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas rezeki, kesehatan, dan keselamatan yang telah diberikan selama setahun terakhir. Warga juga berbondong-bondong menuju bibir kawah Gunung Bromo sejak dini hari.
Ada beragam hasil bumi yang mereka bawa. Di antaranya, ada kentang, kubis, wortel, bawang prei, hingga hewan ternak, seperti ayam dan kambing. Setelah melalui prosesi doa di Pura Luhur Poten, sesajen itu dilarung ke Kaldera Gunung Bromo.
Baca Juga: Khidmatnya Perayaan Yadnya Kasada Warga Tengger di Tengah Suhu Ekstrem Bromo
“Semoga hasil panen pertanian sayur melimpah dan keluarga kami selalu diberikan keselamatan,” ujar salah seorang umat yang mengikuti ritual, Vivin Irawati, 41, warga Tumpang, Kabupaten Malang.
Harapan serupa disampaikan warga Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Heri, 31. Ia mempersembahkan seekor anak kambing berusia dua bulan. Serta, berbagai hasil pertanian yang menjadi sumber penghidupan masyarakat Tengger.
“Ini bentuk syukur atas rezeki yang diberikan. Sudah dua tahun terakhir saya melarung kambing saat Kasada. Harga kambing ini sekitar Rp 500 ribu,” ujar Heri.
Di balik prosesi sakral ini, juga ada tradisi yang sudah lama melekat dalam perayaan Kasada. Yakni, aktivitas para pemarit. Mereka merupakan warga yang menunggu di lereng dan dinding kaldera untuk menangkap persembahan sebelum jatuh ke dasar kawah.
Salah satunya warga Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan, Joko, 42. Sejak pukul 06.00, sudah bersiap di sekitar kaldera untuk mencari larungan yang masih bisa dijangkau.
“Sampai sekarang baru dapat satu ekor kambing. Tahun lalu bisa dapat tiga ekor,” ujarnya ketika ditemui sekitar pukul 08.00.
Joko mengaku lebih memilih berburu kambing dibandingkan hasil bumi, nilai ekonominya lebih tinggi dan lebih mudah dijual kembali.
“Kambing lebih mudah dijual. Biasanya dipelihara dulu sekitar dua bulan supaya bobotnya bertambah dan harganya lebih mahal,” tuturnya.
Keberuntungan juga dirasakan warga Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Suwari, 55. Ia juga berhasil mendapatkan seekor kambing dari hasil larungan.
“Ini pertama kalinya saya mendapatkan kambing. Rencananya akan saya pelihara supaya bisa berkembang biak,” ujarnya. (gus/rud)
Editor : Fahreza Nuraga