SUKAPURA, Radar Bromo- Ritual Yadnya Kasada tidak hanya menjadi momen sakral bagi masyarakat Hindu Tengger. Namun juga membawa berkah bagi para pedagang di kawasan Gunung Bromo.
Lonjakan jumlah pengunjung yang mengikuti rangkaian ritual membuat sejumlah pedagang makanan dan minuman rela membuka usahanya selama 24 jam penuh. Salah satunya terlihat deretan warung kecil di teras tangga menuju kawah Gunung Bromo.
Meski berukuran sederhana, warung-warung itu menyediakan beragam kebutuhan pengunjung. Mulai dari minuman hangat dan dingin, makanan siap saji, hingga aneka camilan yang banyak dibeli sebagai pelengkap sesajen.
Salah seorang pedagang asal Desa Jetak, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Sutono, 53, mengatakan, momen Yadnya Kasada selalu menjadi waktu yang paling dinantikan para pedagang. Sebab, jumlah pembeli dipastikan meningkat drastis dibanding hari-hari biasa.
Jika ketika hari normal, termasuk akhir pekan, Sutono hanya berjualan mulai pukul 05.00-09.00 atau paling lambat pukul 10.00. Wisatawan yang berada di kawasan kawah biasanya juga menurun.
“Kalau hari biasa ramainya hanya saat wisatawan berburu matahari terbit. Setelah itu sudah sepi, jadi tidak perlu buka lama,” ujarnya, Senin (1/6).
Saat Yadnya Kasada, polanya berubah. Sutono buka 24 jam dan bergantian menjaga bersama sang istri agar tetap dapat melayani pembeli. Ia mengaku mampu melayani hingga sekitar 500 pembeli dalam sehari selama pelaksanaan Kasada. Sebagian besar pengunjung membeli minuman, makanan ringan, serta berbagai kebutuhan untuk sesajen.
“Rata-rata satu orang belanja sekitar Rp 20 ribu,” katanya.
Berkah serupa juga dirasakan Hariyanto, 33, yang juga berasal dari Desa Jetak. Ia juga buka 24 jam. Hingga Senin (1/6), ia mengaku sudah dua hari berjualan nonstop. Bergantian berjaga dengan anggota keluarganya.
“Tidurnya bergantian di sini dengan saudara, supaya warung tetap buka,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi perekonomian masyarakat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi daya beli pengunjung. Ia menilai perekonomian warga Tengger tahun ini lebih baik dibanding tahun sebelumnya.
“Tahun lalu harga sayur turun, sehingga penghasilan masyarakat Tengger berkurang. Tahun ini lebih baik, jadi pembeli juga terasa lebih ramai,” katanya. (gus/rud)
Editor : Fahreza Nuraga