Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Khidmatnya Perayaan Yadnya Kasada Warga Tengger di Tengah Suhu Ekstrem Bromo

Inneke Agustin • Senin, 1 Juni 2026 | 19:53 WIB
Salah satu warga Tengger melarung ayam ke kawah Gunung Bromo di perayaan Yadnya Kasada, Senin (1/6). (Mokhamad Zubaidillah/ Radar Bromo)
Salah satu warga Tengger melarung ayam ke kawah Gunung Bromo di perayaan Yadnya Kasada, Senin (1/6). (Mokhamad Zubaidillah/ Radar Bromo)

 

PROBOLINGGO, Radar Bromo –Kabut tebal dan suhu dingin ekstrem yang menyentuh angka 8 derajat Celsius, tidak menghalangi ribuan masyarakat Suku Tengger untuk menjalani ritual sakral Yadnya Kasada di kawasan Gunung Bromo, Senin (1/6) dini hari.

Mereka khusyuk melakukan upacara di Pura Luhur Poten di lautan pasir Bromo.

Sejak malam hingga dini hari, umat Hindu Tengger dari berbagai penjuru berdatangan menuju lokasi ritual.

Mereka membawa ongkek atau persembahan berisi hasil bumi seperti kentang, bawang prei, kubis, dan berbagai jenis sayuran lainnya. Sebagian warga juga membawa hasil peternakan, termasuk anak kambing untuk dilarung.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Probolinggo Bambang Suprapto menjelaskan, Yadnya Kasada merupakan ritual sakral yang dilaksanakan setiap purnama bulan Kasada dalam penanggalan Tengger. Makna utamanya adalah pengorbanan dan rasa syukur.

“Melalui persembahan hasil bumi maupun hasil ternak, masyarakat Tengger meyakini terciptanya keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Harapannya, seluruh manusia dan alam semesta diberikan keselamatan serta kesejahteraan,” ujarnya.

Baca Juga: Polisi Kerahkan Puluhan Personel Pengamanan Selama Perayaan Yadnya Kasada di Bromo

Rangkaian kegiatan ini diawali dengan doa bersama di Pura Luhur Poten yang diikuti umat Hindu Tengger dari empat wilayah kawasan Bromo-Tengger.

Dalam prosesi tersebut, juga dilakukan pembacaan kisah leluhur Joko Seger dan Roro Anteng menggunakan bahasa Tengger.

Selain ritual utama, perayaan Yadnya Kasada tahun ini juga diwarnai prosesi Mulunen atau ujian bagi calon dukun pandita.

Sebanyak tiga warga Hindu Tengger mengikuti ujian tersebut.

Mereka berasal dari Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo; Desa Pandansari, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang; dan Desa Sedaeng, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.

“Mereka adalah calon dukun pandita baru. Saat ini jumlah dukun pandita di seluruh wilayah Tengger ada sekitar 50 orang. Jika ketiganya resmi dilantik, jumlahnya akan bertambah menjadi 53 orang,” katanya.

Untuk mengikuti prosesi Mulunen, setiap peserta wajib menghafal seluruh mantra yang diujikan secara sempurna.

Tidak ada toleransi kesalahan dalam proses tersebut karena berkaitan dengan tugas spiritual yang akan mereka emban.

“Harus lulus 100 persen karena menyangkut hafalan mantra. Dari tiga peserta yang mengikuti ujian tahun ini, semuanya dinyatakan lulus,” ungkapnya.

Bupati Probolinggo Muhammad Haris yang hadir dalam malam resepsi di Pendopo Agung Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, mengatakan, Yadnya Kasada merupakan salah satu agenda budaya yang paling dinantikan masyarakat maupun wisatawan.

Ritual tersebut tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga menjadi daya tarik wisata yang mendunia.

“Kasada adalah salah satu momen yang paling ditunggu karena sudah sangat dikenal wisatawan. Ke depan kami akan mencari cara agar wisatawan bisa menyaksikan dan menikmati momen ini tanpa mengurangi kesakralannya,” katanya.

Gus Haris menegaskan bahwa Yadnya Kasada mengandung pesan penting tentang keikhlasan, penghormatan kepada alam, serta menjaga keseimbangan kehidupan.

“Kasada tidak hanya berbicara tentang keagamaan. Ketika bicara Bromo, kita juga bicara adat, masyarakat, dan alamnya. Semua unsur itu harus dijaga keseimbangannya,” tegasnya.

Daya tarik Yadnya Kasada tahun ini juga mengundang kehadiran umat Hindu dari berbagai daerah di Indonesia. Salah satunya, Ricky Satriawan, 32, yang untuk pertama kalinya datang dan mengikuti langsung prosesi ritual tersebut.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Pemuda Hindu (Prada) Indonesia itu mengaku terkesan dengan kekuatan tradisi yang masih terjaga di masyarakat Tengger. Menurutnya, kehidupan masyarakat Tengger menunjukkan nilai toleransi dan kerukunan yang kuat di tengah perkembangan zaman.

“Ini pertama kalinya saya mengikuti Kasada. Saya melihat masyarakat Tengger memiliki kerukunan yang luar biasa. Mereka mempersembahkan sedekah bumi sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, alam, dan Sang Hyang Widhi,” katanya.

Ricky berharap tradisi yang diwariskan turun-temurun tersebut terus dijaga melalui kolaborasi antara masyarakat adat dan pemerintah daerah.

Terlebih, kawasan Bromo saat ini telah berkembang menjadi destinasi wisata internasional yang banyak dikunjungi wisatawan mancanegara.

“Budaya ini harus tetap lestari. Masyarakat menjaga dan menjalankan tradisinya, sementara pemerintah mendukung pelestariannya. Kolaborasi seperti itu sangat penting agar Kasada tetap hidup di tengah perkembangan pariwisata,” harapnya. (gus/hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#tengger #yadnya kasada #bromo #gus haris #probolinggo