PROBOLINGGO, Radar Bromo-Cagar budaya yang ada di Kota Probolinggo kerap memantik turis mancanegara. Tiap cagar budaya juga bisa menjual atraksinya. Seperti saat perayaan Waisak kemarin. Belasan turis mancanegara berdatangan ke Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Sumber Naga, Kota Probolinggo.
Belasan turis pagi itu memang tengah berkunjung. Salah satunya adalah Claudine, 50, wisatawan asal Prancis. Ia mengaku terkesan dengan budaya, bangunan TITD Sumber Naga yang dinilainya memiliki arsitektur unik, sekaligus memiliki nilai sejarah yang kuat.
Claudine bahkan ikut mencoba ritual pemandian rupang Budha. Seusai melakukannya, ia mengaku memanjatkan sebuah harapan khusus. “I make a wish, but it's secret,” katanya sambil tersenyum.
Saat Waisak Minggu (31/5), kebetulan umat Budha di Probolinggo menggelar ritual pemandian rupang Budha kecil jelang detik-detik Waisak 2570 BE. Momen itu tak disia-siakan turis untuk ikut menikmati perayaan Waisak.
Kehadiran para wisatawan tersebut menambah semarak peringatan Waisak di TITD Sumber Naga, sekaligus menjadi sarana memperkenalkan nilai-nilai toleransi, budaya, dan spiritualitas kepada masyarakat dari berbagai negara.
Dari pantauan Jawa Pos radar Bromo, satu per satu umat tampak menyiramkan air bunga ke rupang Budha dengan penuh ketenangan dan penghayatan. Air bunga disiramkan pada pundak kanan, pundak kiri, dan bagian belakang rupang masing-masing sebanyak tiga kali.
“Ritual tersebut melambangkan upaya membersihkan diri dari berbagai kekotoran batin, seperti iri hati, dendam, keserakahan, dan sifat-sifat negatif lainnya,” Ketua II TITD Sumber Naga, Erfan Sutjianto.
Setelah itu, rangkaian ibadah dilanjutkan dengan pendupaan pada sore hari sebagai penanda dimulainya prosesi detik-detik Waisak. Umat kemudian melaksanakan amisa puja dengan mempersembahkan enam jenis persembahan di altar Sang Budha.
Erfan menjelaskan, setiap persembahan memiliki makna filosofis tersendiri. Lilin melambangkan cahaya atau penerangan hidup, dupa sebagai simbol keharuman perilaku baik, air sebagai lambang kerendahan hati, manisan sebagai simbol membawa rasa manis dalam kehidupan, buah sebagai lambang kedamaian, serta bunga yang mengingatkan manusia akan sifat ketidakkekalan.
“Ajaran itu mengingatkan bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak bersifat abadi, sehingga manusia harus senantiasa berbuat baik selama hidupnya,” jelasnya.
Acara dilanjutkan dengan pembacaan parita suci, umat juga akan memasuki sesi meditasi tepat pada pukul 15.44 yang menjadi momen penting dalam peringatan Waisak.
Melalui meditasi tersebut, umat diajak melakukan evaluasi diri terhadap berbagai tindakan yang telah dilakukan sekaligus merencanakan langkah kehidupan yang lebih baik ke depan.
“Kami melakukan perenungan atas apa yang sudah diperbuat selama ini dan apa yang akan dilakukan ke depannya. Tentunya kami juga berdoa agar Indonesia dan seluruh umat manusia senantiasa hidup damai, sehat, dan dalam kebaikan,” ungkap Erfan. (gus/fun)
Editor : Abdul Wahid