PROBOLINGGO, Radar Bromo–Status Gunung Bromo sejauh ini masih di Level II atau Waspada, menjelang peringatan Hari Raya Yadnya Kasada oleh warga Suku Tengger di kawasan Gunung Bromo.
Karena itu, masyarakat diimbau mematuhi rekomendasi keselamatan dengan tidak mendekati kawah aktif dalam radius satu kilometer.
“Status Gunung Bromo hingga kini masih di Level II atau Waspada,” terang Kalaksa BPBD Kabupaten Probolinggo Oemar Sjarief.
Hal itu diketahui berdasarkan laporan Magma VAR (Volcanic Activity Report) dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Pos Pengamatan Gunungapi Bromo.
Menurut Oemar, status mengatakan kondisi cuaca di kawasan Gunung Bromo selama periode pengamatan terpantau cerah, berawan hingga mendung. Suhu udara berkisar antara 11 hingga 25 derajat Celsius.
Sementara itu, aktivitas kawah masih ditandai dengan kemunculan asap berwarna putih dengan tekanan lemah.
Baca Juga: Jelang Yadnya Kasada, Umat Hindu Tengger Gelar Mendak Tirta Serentak: Simbol Penyucian Lahir-Batin
Asap teramati memiliki intensitas tipis hingga tebal dengan ketinggian sekitar 400 hingga 500 meter di atas puncak kawah.
“Status Gunung Bromo tetap pada Level II. Karena itu, masyarakat yang hendak mengikuti Yadnya Kasada pada Minggu (31/5), tetap kami imbau sesuai rekomendasi tersebut. Sebab kami juga paham ini (Yadnya Kasada, Red) adalah kearifan lokal,” katanya.
Selain menjaga jarak aman, masyarakat yang beraktivitas di sekitar kawasan Gunung Bromo diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi letusan freatik.
Sebab, jenis letusan tersebut dapat terjadi secara tiba-tiba tanpa didahului tanda-tanda peningkatan aktivitas vulkanik yang jelas.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Probolinggo Bambang Suprapto berharap pelaksanaan Yadnya Kasada tahun ini berlangsung lancar, aman, dan khidmat.
Meski status Gunung Bromo masih berada pada Level II atau Waspada.
Ia menjelaskan, prosesi labuh sesaji ke kawah tetap akan dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian ritual adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Namun pihaknya tetap mengingatkan umat dan masyarakat yang hadir agar berhati-hati selama mengikuti prosesi.
“Kami tetap labuh sesaji ke kawah. Namun kami juga mengimbau masyarakat untuk berhati-hati. Mungkin saja sesaji dapat dilabuhkan melalui perwakilan tetapi biasanya tetap ramai karena ini merupakan bagian dari tradisi. Kami percaya para leluhur akan memberikan perlindungan,” ujarnya. (gus/hn)
Editor : Muhammad Fahmi