KANIGARAN, Radar Bromo - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Probolinggo kembali menyoroti kasus Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender (LGBT) di Kota Mangga.
Ditengarai, ribuan warga kota memiliki perilaku LGBT. Bahkan, di tahun 2025, ditemukan 93 penderita HIV yang sebagian besar karena perilaku LGBT.
Persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam rapat koordinasi pengurus MUI Kota Probolinggo di kantor MUI, Jumat malam (29/5).
MUI menilai kasus LGBT perlu mendapat perhatian karena jumlah pelakunya cukup banyak dan sebagian didominasi usia pelajar.
Sekretaris MUI Kota Probolinggo Muhammad Dawam Ichsan mengatakan, berdasarkan informasi dari kepolisian, sekitar 3.000 warga Kota Probolinggo berperilaku LGBT.
Bahkan, ditemukan 20 pasangan LGBT yang jika dibiarkan, dikhawatirkan semakin meluas.
Menurut Dawam, perilaku LGBT juga berisiko tinggi terhadap penularan HIV. Pada 2025 ditemukan 93 penderita baru HIV dengan faktor dominan perilaku LGBT.
Baca Juga: Kasus 20 Pasangan LGBT Positif HIV di Kota Probolinggo, MUI Siapkan Langkah Ini
“Itu hanya mereka yang mau memeriksakan diri. Kenyataannya, sangat mungkin banyak pelaku LGBT yang tidak mau periksakan kesehatannya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, HIV dapat menular melalui transfusi darah dan hubungan intim. Karena itu, penyebarannya perlu diwaspadai.
“HIV itu penularannya melalui transfusi darah dan berhubungan intim. Bahaya, jika pelaku LGBT itu terpapar HIV, tiba-tiba mendonorkan darahnya dan lolos. Pasti yang dapat transfusi darah itu bisa terpapar HIV juga,” terangnya.
Wakil Ketua MUI Kota Probolinggo Ahmad Hudri menegaskan, LGBT merupakan perilaku yang dilarang dalam agama.
Karena itu, pihaknya mendorong Wali Kota segera mengambil langkah penanganan.
Wali Kota Probolinggo dr Aminuddin mengatakan, persoalan LGBT tidak hanya menyangkut perilaku. Namun juga dampak kesehatan berupa penyebaran HIV.
Menurutnya, sebagian besar kasus HIV di Kota Probolinggo berkaitan dengan perilaku menyimpang, meski tidak semua penderita bersedia terbuka atau menjalani pengobatan.
“Padahal, dengan pengobatan meski tidak menghilangkan virus HIV itu, paling tidak memberikan kekebalan tubuh,” katanya.
Pemkot, lanjut Aminuddin, telah melakukan sosialisasi dan pencegahan serta menyediakan layanan pengobatan HIV di rumah sakit dan puskesmas.
“Termasuk sudah ada fasilitas layanan pengobatan bagi penderita HIV di rumah sakit dan puskesmas-puskesmas,” tambahnya. (mas/hn)
Editor : Muhammad Fahmi