KANIGARAN, Radar Bromo - Tahun ini, lulusan SD negeri dan swasta di Kota Probolinggo, mencapai sekitar 2.933 orang. Andai saja semuanya meneruskan ke SMP negeri di Kota Mangga, bisa dipastikan 10 SMP negeri tak akan mampu. SMP negeri se-Kota Probolinggo hanya menampung sekitar 2.176 pelajar. Artinya, ada 757 pelajar yang tak akan tertampung di SMP negeri.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Probolinggo Siti Romlah mengatakan, Sistem Penerinaam Murid Baru (SPMB) di tingkat SMPN 2026/2027 ada beberapa jalur. Di antaranya, jalur afirmasi, prestasi, mutase, dan domisili.
Jalur prestasi kuota setiap lembaga SMP negeri paling sedikit 25 persen dan tidak melebihi 30 persen. Jalur afirmasi minimal 20 persen dan tidak melebihii 25 persen (afirmasi kurang mampu dan disabilitas). Kemudian, jalur perpindahan tugas orang tua atau mutasi 5 persen dan 40 persen merupakan jalur domisili.
“Setiap tahun memang permasalahannya jumlah lulusan SD dan MI, baik negeri maupuan swasta, itu jauh lebih banyak dibanding kuota lembaga SMP negeri. Data jumlah lulusan SD negeri dan swasta di Kota Prbolinggo saja, tahun ini mencapai 2.933 siswa. Sementara itu, kuota (SMP negeri) hanya 2.176 siswa,” katanya.
Dengan kondisi itu, kata Romlah, mau tidak mau harus ada peserta didik dan yang bersedia bersekolah di SMP atau MTs (Madrasah Tsanawiyah) swasta. Di Kota Probolinggo, ada 20 lembaga SMP swasta yang juga siap menerima siswa. Ditambah lembaga MTs.
Dengan adanya lembaga SMP dan MTs tersebut, kata Romlah, sejatinya masih bisa menampung seluruh lulusan SD-MI se-Kota Probolinggo. Hanya saja, animo orang tua dan peserta didik untuk bersekolah di SMP negeri sangat tinggi.
Menurutnya, dalam peraturan wali kota (perwali) juga telah diatur soal kuota untuk jalur afirmasi dan sudah tinggi. Dengan harapan, calon siswa dari keluarga kurang mampu dapat bersekolah di SMP negeri.
“Dari lulusan SD dan MI itu, ada juga yang melanjutkan di luar Kota Probolinggo, karena pindah domisili atau karena tinggal di pondok,” jelasnya. (mas/rud)
Editor : Fahreza Nuraga