LUMBANG, Radar Bromo -Menjelang Hari Raya Yadnya Kasada 2026, umat Hindu Tengger melakukan ritual Mendak Tirta atau pengambilan sumber air.
Salah satunya di kawasan Air Terjun Madakaripura, Desa Negororejo, Lumbang, Kabupaten Probolinggo, Jumat (29/5).
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Probolinggo Bambang Suprapto menjelaskan, prosesi Mendak Tirta dilakukan serentak oleh umat Hindu Tengger dari empat kabupaten di sekitar Gunung Bromo. Yakni, Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang.
“Titik pengambilan tirta dilakukan di beberapa tempat. Antara lain, di Gua Widodaren, Air Terjun Madakaripura, Sumber Semanik, Merumoyo, Rondo Kuning, dan Sumber Pitu,” ujarnya.
Bambang menjelaskan, Mendak Tirta merupakan prosesi menjemput air suci atau tirta yang nantinya digunakan dalam upacara keagamaan.
Baca Juga: Wisata Gunung Bromo Ditutup Sementara selama Yadnya Kasada Mulai Minggu Besok, Buka Kembali 3 Juni
Ritual ini merupakan simbol penyucian lahir dan batin sebelum Yadnya Kasada dilakukan.
Mendak Tirta juga dimaknai sebagai bentuk keselarasan manusia dengan alam, khususnya air sebagai sumber kehidupan. Ritual tersebut sekaligus memperkuat nilai spiritual dan kebersamaan umat Hindu Tengger dalam rangkaian Piodalan dan upacara adat.
“Prosesi ini juga menjadi bentuk permohonan restu dan keselamatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta penghormatan kepada para leluhur,” lanjutnya.
Di Kabupaten Probolinggo, prosesi Mendak Tirta dikuti puluhan umat Hindu Tengger. Mereka lebih dulu berkumpul di kantor Kecamatan Sukapura sebelum bersama-sama menuju Air Terjun Madakaripura.
Lokasi itu dipercaya masyarakat Tengger sebagai tempat sakral. Sebagai lokasi pertapaan Maha Patih Gajah Mada yang dianggap leluhur masyarakat Tengger.
“Prosesi ini juga diiringi ketipung. Tahun ini yang bertugas adalah Desa Ngadas, Kecamatan Sukapura. Memang setiap tahun dilakukan bergantian antardesa di Sukapura,” kata Bambang.
Kades Ngadas Kastaman menyampaikan, semua tirta dari empat kabupaten nantinya dikirab menuju Pura Luhur Poten di kawasan lautan pasir Bromo. Perjalanannya pun tak lupa diiringi dengan ketipung.
“Air suci itu nantinya digunakan sebagai bagian dari kelengkapan ritual Yadnya Kasada, khususnya untuk proses penyucian sarana prasarana serta lokasi upacara,” jelasnya. (gus/hn)
Editor : Muhammad Fahmi