KANIGARAN, Radar Bromo - Jemaah haji asal Kota Probolinggo, telah melalui puncak haji pada 9 Dzulhijjah, Selasa (26/5). Rabu (27/5), jemaah mabit di Mina dilajuktan melaksanakan lontar Jumrah Aqabah. Dari 312 jemaah asal Kota Mangga, seorang jemaah hasur dibadalkan hajinya karena sakit.
Petugas Haji Daerah (PHD) Kota Probolinggo Firman Wagahadi Pratama mengatakan, sebanyak 312 jemaah haji asal Kota Probolinggo yang tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 5 Embarkasi Surabaya, telah sukses menyelesaikan seluruh rangkaian inti puncak ibadah haji di Arafah dan Muzdalifah. Rombongan juga telah tiba di Maktab Mina.
Mereka, kata Firman, tengah mematangkan persiapan fisik guna melaksanakan prosesi wajib haji berikutnya. Berupa lempar Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah.
“Pergeseran jemaah dari Muzdalifah berjalan tertib dan aman. Kendati mayoritas jemaah berada dalam kondisi bugar,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Bromo, Rabu (27/5).
Firman mengatakan, ada seorang jemaah yang terpaksa dibadalhajikan oleh tim Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) karena serangan stroke. Ia warga Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, Basori, 62. Kini, ia mendapatkan perawatan intensif dan seluruh hak ibadah hajinya telah didelegasikan melalui skema badal haji kedinasan.
“Pihak keluarga di tanah air tidak perlu khawatir, sebab seluruh prosesi hajinya sudah resmi dibadalhajikan oleh petugas KKHI. Ini adalah komitmen pemerintah untuk memastikan hak ibadah setiap jemaah tetap terpenuhi secara syari,” jelasnya.
Soal persiapan jemaah haji untuk melaksanakan lempar jumrah, Firman mengatyakan, Posko PHD berkoordinasi ketat dengan ketua rombongan (karom) untuk membagi jemaah ke dalam kelompok-kelompok kecil.
Langkah mitigasi ini diambil demi menjaga keselamatan jemaah dari potensi kepadatan massa di jalur menuju jamarat serta sengatan cuaca ekstrem yang sempat menyentuh angka 44 derajat selsius.
“Sudah dilakukan pemetaan jadwal melontar jumrah bagi jemaah Kloter 5, agar terhindar dari waktu larangan yang ditetapkan maktab. Jemaah lansia dan risti (risiko tinggi) yang mengalami kelelahan fisik pasca-wukuf disarankan melontar pada waktu teduh, seperti sore atau malam hari atau dapat mewakilkan (badal) lempar jumrahnya kepada petugas atau sesama jemaah yang sehat,” ungkapnya. (mas/rud)
Editor : Fahreza Nuraga