Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Agrotani Mandiri Probolinggo: Dari Kraksaan, Bibit Sayur Antistres Itu Menembus Tiga Kabupaten

Agus Faiz Musleh • Senin, 25 Mei 2026 | 10:17 WIB

 

ANTISTRES: Adi Prasetyo, pemilik usaha pembibitan Agrotani Mandiri saat menyiapkan bibit di greenhouse pembibitan miliknya di Jalan Ir H Juanda, Kelurahan Patokan, Kraksaan. Ratusan ribu bibit dari sini dipasarkan hingga ke tiga kabupaten.
ANTISTRES: Adi Prasetyo, pemilik usaha pembibitan Agrotani Mandiri saat menyiapkan bibit di greenhouse pembibitan miliknya di Jalan Ir H Juanda, Kelurahan Patokan, Kraksaan. Ratusan ribu bibit dari sini dipasarkan hingga ke tiga kabupaten.

KRAKSAAN, Radar Bromo– Saat petani biasa menggunakan sistem cabutan yang berisiko merusak akar tanaman, sebuah usaha pembibitan di Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, justru pakai metode polybag. Metode ini terbukti mampu menghasilkan bibit sayur dengan tingkat hidup jauh lebih tinggi.

Pembibitan itu mulai dirintis sejak 2016 dan aktif beroperasi setahun kemudian. Namanya Agrotani Mandiri, berlokasi di greenhouse Jalan Ir H Juanda, Kelurahan Patokan. Kini, ratusan ribu bibit hortikultura dikirim hingga ke Pasuruan dan Situbondo.

“Dulu umumnya petani pakai cabutan untuk penyemaian. Kalau dicabut akarnya putus, bibit stres saat ditanam. Kalau pakai polybag seperti ini, akar tidak rusak karena masih ada medianya,” ujar pemiliknya, Adi Prasetyo atau akrab disapa Pak Pras.

Metode itu kini menjadi keunggulan utama Agrotani Mandiri. Bibit yang dipindah tanam mempertahankan media tanam di akar, sehingga tidak stres. Dampaknya, tingkat keberhasilan hidup tanaman meningkat signifikan dibanding sistem konvensional.

Menurut Pras, tingkat keberhasilan bibit dengan metode polybag bisa mencapai 95 persen. Sedangkan bibit sistem cabutan kadang hanya mampu bertahan sekitar 50 persen akibat kerusakan akar saat proses pindah tanam.

Di dalam greenhouse, ribuan bibit cabai besar, cabai rawit, tomat, terong, hingga kubis tersusun rapi dalam polybag kecil. Untuk bibit tomat, proses penyemaian membutuhkan waktu sekitar 15–20 hari sebelum siap ditanam di lahan.

Greenhouse itu juga dirancang agar proses pembibitan tetap berjalan sepanjang musim. Saat musim hujan, tanaman terlindungi dari serangan jamur dan busuk batang. Lalu di musim kemarau, pencahayaan tetap terkendali melalui lapisan UV dan screen net untuk menahan hama.

Baca Juga: Infrastruktur Digenjot, Akses Pertanian Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura Kian Mudah

Saat ini kapasitas pembibitan Agrotani Mandiri mencapai sekitar 800 ribu bibit per siklus. Jika digabung dengan lokasi pembibitan milik saudaranya, jumlahnya mendekati 900 ribu bibit.

Pasarnya pun terus berkembang. Selain memasok kebutuhan petani di Kabupaten Probolinggo, bibit dari Agrotani Mandiri juga dikirim ke Pasuruan dan Situbondo.

Memang, harga bibit polybag lebih mahal dari bibit cabutan. Cabai besar dijual Rp 300 ribu - Rp 450 ribu per seribu bibit. Cabai rawit Rp 200 ribu - Rp 250 ribu per seribu bibit. Sementara tomat Rp 300 ribuan, kubis Rp 200 ribu, dan terong Rp 250 ribu per seribu bibit.

Namun bagi petani, selisih harga itu dianggap sebanding dengan tingkat keberhasilan tanam. As'ad, salah satu petani asal Kelurahan Kraksaan Wetan mengaku rutin membeli bibit di Agrotani Mandiri. Kali ini ia membeli bibit terong untuk lahan tanamnya.

“Kalau beli bibit cabutan biasanya banyak yang mati dan harus sulam. Kalau di sini hampir 100 persen hidup karena akar bibitnya tidak putus. Jadi meskipun lebih mahal, hitungannya tetap untung,” katanya. (mu/hn/*)

Editor : Muhammad Fahmi
#agrotani #pertanian #probolinggo #Kraksaan