
TONGAS, Radar Bromo - Rumah makan modern dan kuliner cepat saji, boleh saja terus berkembang. Namun rawon hitam pekat di RM Rawon Nguling, Tongas, Kabupaten Probolinggo, tetap menjadi magnet bagi pecinta kuliner Nusantara.
Aroma bumbu yang dimasak dengan kayu bakar, potongan daging sapi empuk, hingga kuah rawon yang kaya rempah, membuat rumah makan ini bertahan lebih dari delapan dekade. Jadi kuliner legendaris yang terus didatangi pelanggannya.
Berlokasi di Jalan Raya Pantura Desa Tambakrejo, Kecamatan Tongas, RM Rawon Nguling dikenal luas karena konsistensinya menjaga cita rasa rawon otentik sejak berdiri pada 1942.
Hingga kini, proses memasaknya masih mempertahankan cara tradisional yang diwariskan turun-temurun.
“Untuk meng-gongso bumbu juga masih menggunakan kayu bakar. Sehingga aromanya wangi, rasanya enak, dan tingkat kematangannya pas,” ujar Owner RM Rawon Nguling Rofiq Ali Pribadi.
Selain cara memasak, keistimewaan rawon di sini juga pada pemilihan bahan baku yang dijaga ketat. Daging yang digunakan berasal dari sapi lokal pilihan hasil penggemukan, bukan sapi limosin.
Baca Juga: Gelar Festival Kuliner Rawon 5.236 Porsi, Polres Probolinggo Raih Rekor MURI
Sementara bumbu dan sayur-sayuran dipasok langsung dari lereng Bromo agar kualitas dan kesegarannya tetap terjaga.
Tak hanya itu, pemilihan kluwek juga dilakukan secara khusus dari daerah tertentu, demi menjaga warna hitam pekat dan rasa otentik rawon tetap konsisten.
Hasilnya, kuah rawon memiliki rasa gurih kuat dengan aroma rempah yang khas.
Kenikmatan menu utama itu semakin lengkap dengan berbagai lauk pendamping. Seperti empal, paru, limpa, jantung sapi, sate puyuh, perkedel, telur asin, tempe, hingga kerupuk. “Empalnya empuk, teksturnya terasa, rasa bumbunya meresap,” terang Rofiq.
Tidak hanya rawon. Rumah makan tersebut kini juga menyediakan berbagai menu lain seperti gule, sop, lodeh, pecel, soto ayam.
Ada juga nasi garingan, tahu campur, hingga krengsengan. Minumannya pun beragam, mulai es jeruk, es sinom, soda gembira, es degan, hingga beras kencur tradisional.
Di balik kepopulerannya, RM Rawon Nguling memiliki sejarah panjang. Rumah makan itu pertama kali didirikan pasangan suami istri, Mbah Karyoredjo dan Mbah Marni pada masa pendudukan Jepang tahun 1942. Saat itu namanya masih Warung Loemayan atau Warung Lumayan.
Bangunannya sangat sederhana. Berdinding anyaman bambu dan berada di bawah pohon trembesi di tepi Jalan Daendels yang kini menjadi jalur Pantura Probolinggo. Kala itu, pelanggan mayoritas datang menggunakan pedati dan dokar.
“Masaknya juga tidak sebanyak sekarang nasinya. Paling hanya sekitar dua sampai tiga kilogram saja,” kata Rofiq.
Usaha itu kemudian diteruskan oleh generasi berikutnya, hingga berkembang pesat. Bahkan 2018, RM Rawon Nguling menerima sertifikat warisan budaya tak benda dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Sebab, dinilai turut melestarikan kuliner khas Jawa Timur.
Kini Rawon Nguling memiliki tujuh cabang. Tersebar di Surabaya, Sidoarjo, Malang, Mojokerto, Gempol, hingga Jakarta Selatan.
Tak heran, rumah makan ini menjadi langganan banyak tokoh penting. Mulai artis, pejabat negara, kepala daerah, hingga tokoh nasional pernah singgah menikmati seporsi rawon khas Nguling.
Di antaranya, Mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono serta Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.
Dengan cita rasa otentik yang tetap terjaga selama puluhan tahun, pelayanan yang ramah, serta fasilitas yang lengkap, RM Rawon Nguling tidak hanya menjadi tempat makan. Namun juga destinasi kuliner legendaris yang wajib disinggahi saat melintas di jalur Pantura Probolinggo. (gus/hn/*)
Editor : Muhammad Fahmi