Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Ironi Gereja Merah Probolinggo: Cagar Budaya dan Wisata Unggulan, tapi Perawatan Andalkan Dana Swadaya Jemaat

Arif Mashudi • Sabtu, 23 Mei 2026 | 12:50 WIB
CAGAR BUDAYA: Gereja Merah yang terletak di Jalan Suroyo, Kota Probolinggo. (Arif Mashudi/ Radar Bromo)
CAGAR BUDAYA: Gereja Merah yang terletak di Jalan Suroyo, Kota Probolinggo. (Arif Mashudi/ Radar Bromo)

KANIGARAN, Radar Bromo–Gereja Merah di Jalan Suroyo Kota Probolinggo selama ini dikenal sebagai salah satu bangunan cagar budaya, sekaligus destinasi wisata sejarah unggulan.

Namun, selama bertahun-tahun pemeliharaannya hanya mengandalkan dana swadaya jemaat. Minim keterlibatkan pemerintah daerah setempat.

Pendeta Wiwik Kristiani Kembuan mengeluhkan hal itu (22/5), saat Ketua Dekranasda Kota Probolinggo dr. Evariani berkunjung ke rumah dinasnya.

Kunjungan Eva (panggilanya) bertujuan membahas pelestarian dan pengembangan Gereja Merah sebagai destinasi wisata religi, sekaligus situs cagar budaya.

Wiwik menjelaskan, Gereja Merah dibangun pada 1862 dengan sistem bongkar pasang (knockdown) asal Jerman. Hingga kini, gereja itu masih melayani 88 kepala keluarga (KK).

Selain ruang utama ibadah, ada beberapa ruangan lain di tempat itu. Di antaranya, ruang persiapan ibadah, kantor utama, toilet, ruang sekolah mingguan untuk anak (tiga kelas), dua ruang persekutuan remaja, dapur umum, gudang, hingga guest house.

Namun, perawatan bangunan bersejarah tersebut menghadapi kendala serius. Terutama terkait biaya yang bergantung sepenuhnya pada swadaya jemaat.

Baca Juga: Jejak Sejarah Natal di Kota Probolinggo, Gereja Merah Menandai Awal Tempat Ibadah dan Perayaan Bersama

“Untuk mengatasi keterbatasan biaya, gereja berencana membangun kantin dan unit usaha kreatif sebagai penunjang operasional rumah ibadah,” ujar Wiwik didampingi pengurus Gereja Merah yang lain. Ada Ketua 1 Cornelius Tahapari, Ketua 2 Andri Martin, dan Sekretaris Milarosa.

Nantinya, kantin akan dikelola gereja untuk memperkuat kemandirian ekonomi jemaat dan masyarakat sekitar.

Konsep ini diharapkan Wiwik, menjadi bentuk sinergi antara gereja dan Pemkot Probolinggo untuk mendukung pertumbuhan ekonomi lokal.

 “Area kantin yang sedang dibangun nantinya akan menyediakan ruang khusus untuk produk UMKM dan pusat oleh-oleh. Konsepnya terbuka tanpa sekat agar memudahkan interaksi antara penjual dan pembeli,” jelas Wiwik.

Eva menambahkan, integrasi kegiatan Gereja Merah dengan agenda Car Free Day (CFD) sangat memungkinkan dilakukan.

Termasuk kolaborasi bersama pelaku UMKM untuk menghadirkan produk suvenir khas daerah.

“Ini bisa menjadi peningkatan ekonomi rumah ibadah, sekaligus memperkuat daya tarik wisata religi di Kota Probolinggo,” katanya

Eva pun mengusulkan agar pemkot membahas lebih lanjut bentuk dukungan yang bisa diberikan pada Gereja Merah. Terutama berkaitan dengan rencana pengembangan dan pemeliharaannya.

”Selama ini, Pemkot Probolinggo belum menganggarkan hibah untuk Gereja Merah. Jadi bisa didiskusikan lebih lanjut untuk pengembangan Gereja Merah tersebut,” terangnya.

Kepala Dispopar Kota Probolinggo M. Abas menegaskan, Gereja Merah adalah salah satu cagar budaya unggulan dan destinasi wisata sejarah di Kota Probolinggo maupun Jawa Timur.

Karena itu, pemerintah tidak cukup hanya “mem-branding” sebagai tempat wisata. Namun harus hadir secara nyata mendukung pengelolaan dan pemeliharaannya.

“Pemerintah Kota Probolinggo akan mencari langkah strategis untuk mendukung pengembangan Gereja Merah. Baik secara langsung maupun tidak langsung. Ke depan, kami juga akan berkomunikasi lebih lanjut terkait berbagai kebutuhan pengembangan destinasi wisata religi dan tempat ibadah bersejarah lainnya di kota,” tambah Abas. (mas/hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#Kota Probolinggo #cagar budaya #Gereja Merah #wisata sejarah #jalan suroyo