DESA Randuputih, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo, terus menunjukkan potensinya sebagai kawasan pesisir yang berkembang. Beragam potensi bahari yang dimiliki desa ini mendapat perhatian dari Pemerintah Pusat. Bahkan, Desa Randuputih dilirik untuk menjadi salah satu lokasi pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).
Rencana pembangunan KNMP akan dipusatkan di kawasan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Randuputih. Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam mewujudkan kawasan pesisir yang modern, produktif, serta memiliki daya saing tinggi.
Sekretaris Desa Randuputih Satimin mengatakan, rencana pembangunan kawasan ini telah disiapkan melalui penyusunan siteplan. Konsep pembangunan nantinya akan memanfaatkan area jetty atau jembatan dermaga. Sebagian besar fasilitas dibangun di atasnya.
Berbagai fasilitas penunjang akan dibangun di kawasan KNMP. Mulai dari SPBU mini untuk kebutuhan nelayan, cold storage sebagai tempat penyimpanan hasil tangkapan, fasilitas pengedokan kapal, area penjemuran ikan, kantor pengelola, tambatan perahu, hingga balai nelayan.
Keberadaan fasilitas ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas para nelayan. Sekaligus, mendukung aktivitas ekonomi masyarakat pesisir secara lebih terintegrasi.
Perhatian Pemerintah Pusat terhadap Desa Randuputih, kata Satimin, terlihat dari kunjungan Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Didit Herdiawan Ashaf, Jumat (24/4). Ia meninjau langsung rencana lokasi kawasan KNMP.
Peninjauan menjadi langkah awal dalam mewujudkan kampung nelayan modern yang tidak hanya berfokus pada sektor perikanan. Tetapi juga memperhatikan kebersihan lingkungan, penataan kawasan, hingga digitalisasi sistem ekonomi masyarakat pesisir.
Melalui Program KNMP, pemerintah menargetkan terciptanya kawasan pesisir yang mampu menjadi pusat aktivitas perikanan sekaligus penggerak ekonomi lokal. Dengan pengelolaan modern, nelayan diharapkan dapat memperoleh manfaat ekonomi yang lebih luas dan berkelanjutan.
Tak hanya sektor perikanan tangkap, Desa Randuputih juga memiliki potensi besar di bidang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berbasis hasil laut. Masyarakat setempat telah memproduksi beragam olahan seafood. Mulai dari skala rumahan hingga usaha berskala besar.
“Produk olahan hasil laut di sini cukup banyak. Ada yang skala kecil untuk pasar lokal, ada juga yang usahanya sudah besar. Bahkan, pemasarannya sudah sampai luar daerah,” terang Satimin. (gus/rud/*)
Lestarikan Budaya, Gencarkan Program Desa Tematik Hijau
PELESTARIAN budaya dan penghijauan lingkungan tak luput dari perhatian Pemerintah Desa Randuputih, Kecamatan Dringu. Begitu juga dengan pemberdayaan masyarakat melalui berbagai program berkelanjutan.
Salah satu upaya pelestarian budaya yang terus dikembangkan adalah seni sendratari khas desa setempat. Sekretaris Desa Randuputih Satimin mengatakan, Desa Raduputih memiliki tarian khas bernama Sandya Bhumi Randuputih. Tarian ini mulai dikenal dalam berbagai kegiatan seremonial maupun penyambutan tamu.
Tari khas ini terus berkembang. Jika sebelumnya hanya dimainkan oleh satu kelompok berisi lima remaja, kini berkembang menjadi empat kelompok dengan sekitar 20 remaja yang aktif terlibat.
“Dulu hanya satu tim kecil. Sekarang sudah berkembang menjadi empat tim. Bahkan, lagu pengiringnya juga sudah memiliki empat aransemen berbeda,” ujar Satimin.
Tarian Sandya Bhumi Randuputih rutin ditampilkan dalam berbagai kegiatan penting desa. Mulai dari penyambutan tamu hingga acara resmi lainnya. Keberadaannya diharapkan menjadi identitas budaya desa sekaligus wadah pengembangan kreativitas generasi muda.
Selain pelestarian budaya, Pemerintah Desa Randuputih terus menggencarkan Program Desa Tematik Hijau. Program ini diwujudkan melalui gerakan penanaman pohon randu di setiap RT sebagai ciri khas desa. Setiap RT ditargetkan menanam 17 pohon randu.
“Ini juga sebagai upaya pemerintah desa melestarikan sejarah nama Desa Randuputih,” katanya.
Di kawasan Randu Park, juga ditanam sekitar 400 tanaman obat keluarga (toga). Di antaranya, ada jahe merah, lengkuas, kunyit, hingga temulawak. Tanaman ini tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan kesehatan masyarakat, tetapi juga diarahkan menjadi produk olahan bernilai ekonomi.
“Kami berharap tanaman toga ini bisa diolah menjadi produk kemasan, seperti bubuk herbal yang memiliki nilai jual,” harap Satimin.
Komitmen terhadap lingkungan juga diwujudkan melalui pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Masyarakat terus diedukasi agar mampu mengelola sampah sejak dari rumah. Menariknya, bank sampah di desa ini menerapkan sistem penukaran sampah dengan kebutuhan pokok masyarakat.
“Sampah yang disetorkan warga bisa ditukar. Misalnya, satu kilogram sampah mendapatkan lima ons gula. Bahkan, ada warga yang berhasil menukarnya dengan satu kilogram gula,” jelasnya. (gus/rud/*)
Editor : Fahreza Nuraga