KRAKSAAN, Radar Bromo – Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Probolinggo masih cukup tinggi. Hingga Senin (18/5), Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo mencatat ada 333 kasus dengan dua pasien meninggal dunia.
Kondisi ini menjadi perhatian serius Dinkes. Sebab, risiko penyebaran DBD meningkat saat peralihan musim atau pancaroba seperti sekarang.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo dr. Nina Kartika menegaskan, DBD masih perlu diwaspadai saat ini. Apalagi, masih ada temuan kasus di masyarakat.
“Ketidakstabilan suhu dan curah hujan tinggi menjadi pemicu berkembangbiaknya nyamuk Aedes Aegypti, vektor utama penularan DBD. Lingkungan dengan genangan air yang tidak terpantau juga menjadi media ideal bagi nyamuk berkembang biak,” terangnya.
Menurutnya, kasus DBD sejak awal tahun hingga 18 Mei sebagian besar tertangani dengan baik. Hanya dua pasien yang meninggal.
Menunjukkan bahwa meski kasus tinggi, penanganan medis di Kabupaten Probolinggo relatif efektif.
“Untuk wilayah temuan penyakit DBD tertinggi sejauh ini ada di Kecamatan Paiton dan Kraksaan,” ujarnya.
Baca Juga: Belasan Warga Kota Pasuruan Terpapar DBD di Triwulan Satu Tahun 2026
Kondisi ini menandakan bahwa daerah dengan kepadatan penduduk dan pengelolaan lingkungan yang kurang optimal menjadi fokus utama pemantauan.
Untuk menanggulangi meluasnya kasus ini, Dinkes bekerja secara proaktif bersama puskesmas dengan cara memantau wilayah yang berpotensi menjadi lokasi kasus. Selain itu, penanganan dilakukan secara maksimal bagi pasien positif DBD.
Namun Nina menekankan, penanggulangan penyakit tidak cukup hanya melalui pemantauan dan perawatan pasien. Diperlukan kolaborasi lintas sektor agar penanggulangan penyakit lebih efektif.
Selain upaya pemerintah, menurutnya, peran masyarakat juga sangat penting. Warga diminta rutin memantau dan membersihkan rumah serta lingkungan sekitar agar tidak ada sarang jentik nyamuk. Upaya ini krusial untuk mencegah lonjakan kasus DBD.
“Tidak adanya jentik nyamuk Aedes Aegypti di rumah dan lingkungan dapat memutus rantai penularan penyakit DBD,” tegasnya. (ar/hn)
Editor : Muhammad Fahmi