PEMERINTAH Desa Watuwungkuk, Kecamatan Dringu, terus berusaha berinovasi. Salah satunya melalui program desa tematik hijau. Upaya ini sebagai bentuk sinergi dengan misi Pemkab Probolinggo dalam mewujudkan lingkungan yang bersih dan berkelanjutan.
Komitmen Pemerintah Desa Watuwungkuk, salah satunya diwujudkan melalui pengelolaan sampah terpadu dan konservasi air. Juga penghematan energi hingga pemanfaatan limbah peternakan menjadi energi alternatif bagi masyarakat.
Kasi Pembangunan Desa Watuwungkuk Dafid Prasasti mengatakan, penanganan sampah menjadi salah satu fokus utama pemerintah desa. Untuk mendukung sistem pengelolaan sampah yang lebih baik, pemerintah desa berkerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Probolinggo terkait pengangkutan sampah menuju Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Masyarakat juga diajak untuk memilah sampah sejak dari rumah menjadi sampah organik dan anorganik. Agar sampah dapat dikelola lebih optimal dan tidak mencemari lingkungan.
“Sampah organik dimanfaatkan menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik didaur ulang, sehingga tidak langsung dibuang ke TPA,” ujarnya.
Kompos hasil pengolahan sampah kemudian dimanfaatkan warga untuk menyuburkan tanaman sayuran maupun tanaman toga di pekarangan rumah warga. Sampah anorganik didaur ulang menjadi pot tanaman yang digunakan untuk mempercantik ruas jalan desa.
Di bidang konservasi air, pemerintah desa membuat inovasi sederhana. Berupa biopori yang dipasang di setiap rumah warga.
“Harapannya, air hujan bisa lebih mudah terserap, sehingga tidak menyebabkan genangan. Selain itu, juga dapat dimanfaatkan untuk pengolahan sampah organik,” jelas Dafid.
Kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan juga terus meningkat. Warga kini tidak lagi membuang sampah maupun limbah kotoran ke sungai. Dampaknya, kondisi sungai di Desa Watuwungkuk jauh lebih bersih.
Atas upaya itu, Desa Watuwungkuk berhasil menerima sertifikat Open Defecation Free (ODF) dari Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo. Pengakuan ini ditujukan atas keberhasilan desa dalam menciptakan sanitasi lingkungan yang sehat.
“Alhamdulillah sekarang sungai-sungai di desa kami sudah bersih,” ujar Dafid.
Sementara dalam upaya konservasi energi, Pemerintah Desa Watuwungkuk mendorong masyarakat menggunakan lampu LED. Karena lebih hemat listrik dan ramah lingkungan. Sejumlah lampu penerangan jalan umum (PJU) di desa juga telah menggunakan teknologi tenaga surya atau solar cell. (gus/rud)
Jaga Kesehatan Warga, Dongkrak Komoditas Ekspor
PEMERINTAH Desa Watuwungkuk juga memberikan perhatian besar terhadap bidang kesehatan masyarakat. Salah satu program yang rutin dijalankan adalah pemberian Makanan Bergizi Gratis (MBG) bagi kelompok rentan guna mendukung pemenuhan gizi masyarakat.
Program ini dilaksanakan setiap hari kerja. Mulai Senin-Jumat. Sasaran sekitar 153 penerima manfaat. Mereka berasal dari kelompok B3. Yakni, balita, ibu hamil (bumil), dan ibu menyusui (busui).
Ketua TP PKK Desa Watuwungkuk Listiyawati menjelaskan, pembagian MBG dilakukan secara rutin di kantor desa. Sementara, Sabtu-Minggu atau tanggal merah, libur.
“Program ini rutin berjalan setiap hari kerja dan pengambilannya dipusatkan di kantor balai desa,” ujarnya.
Dalam setiap paket MBG, masyarakat menerima menu makanan bergizi lengkap yang terdiri atas nasi, sayur, lauk pauk, buah, serta susu. Konsep menu disusun dengan memperhatikan keseimbangan gizi guna mendukung kesehatan ibu dan anak.
Listiyawati mengatakan, pemenuhan gizi yang baik sangat penting. Terutama bagi balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Agar kesehatan mereka tetap terjaga.
“Menu yang diberikan dibuat seimbang dan disesuaikan dengan kebutuhan gizi penerima manfaat. Alhamdulillah masyarakat sangat antusias dengan program MBG ini,” terangnya.
Di sisi lain, Desa Watuwungkuk juga memiliki potensi ekonomi yang cukup besar di sektor pertanian. Mayoritas masyarakat desa bekerja sebagai petani bawang merah, sehingga hasil produksi bawang merah di desa ini tergolong melimpah. Melihat potensi ini, masyarakat mengembangkan usaha olahan bawang merah menjadi bawang goreng siap konsumsi yang dipasarkan secara luas, termasuk melalui platform online.
Listiyawati menjelaskan, produk bawang goreng asal Desa Watuwungkuk kini telah dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia dan mendapat respons positif dari konsumen.
“Alhamdulillah pemasarannya sudah sampai ke seluruh Nusantara. Bahkan kami sering kewalahan memenuhi pesanan, terutama dari wilayah Indonesia bagian timur,” katanya. (gus/rud)
Editor : Fahreza Nuraga