Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Bentuk Kampung Tangguh Bencana di Desa Kedungdalem Dringu di Probolinggo

Inneke Agustin • Selasa, 19 Mei 2026 | 06:05 WIB
SOLIDARITAS: Ratusan warga Desa Kedungdalem mengikuti acara Kadesa di Halaman kantor desa. (Pemerintah Desa Kedungdalem for Jawa Pos Radar Bromo)
SOLIDARITAS: Ratusan warga Desa Kedungdalem mengikuti acara Kadesa di Halaman kantor desa. (Pemerintah Desa Kedungdalem for Jawa Pos Radar Bromo)

SEBAGAI desa yang beberapa kali terdampak banjir, Pemerintah Desa (pemdes) Kedungdalem terus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat sekaligus meminimalisir risiko bencana. Mulai dari pembentukan Kampung Tangguh Bencana hingga pembangunan bronjong di sepanjang tebing Sungai Kedunggaleng dilakukan demi menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi warga.

Kepala Desa Kedungdalem, Sumartono menjelaskan, program Kampung Tangguh Bencana menjadi salah satu langkah penting dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap potensi bencana, khususnya banjir yang kerap terjadi saat intensitas hujan tinggi.

Melalui program tersebut, masyarakat diberikan edukasi terkait langkah antisipasi, penanganan darurat, hingga mitigasi bencana agar lebih siap ketika kondisi darurat terjadi.

“Kegiatan ini kami laksanakan bersama BPBD dan juga mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tujuannya agar masyarakat semakin tanggap terhadap kebencanaan,” ujarnya.

Dalam kegiatan sosialisasi tersebut, warga juga dibekali sejumlah perlengkapan darurat yang dapat digunakan saat terjadi bencana. Di antaranya pelampung, senter, toa, hingga perahu karet guna mendukung proses evakuasi maupun penyelamatan.

Menurut Sumartono, melalui program Kampung Tangguh Bencana, pemdes bersama masyarakat juga menyusun strategi komunikasi cepat berbasis kelompok atau paguyuban warga. Strategi tersebut dilakukan dengan memantau kondisi debit air dari wilayah Bantaran.

“Ketika ketinggian air mulai meningkat, informasi segera diteruskan kepada Pemdes sehingga langkah antisipasi dapat dilakukan lebih cepat,” katanya.

Tak hanya fokus pada edukasi dan mitigasi, Desa Kedungdalem juga melakukan penguatan infrastruktur penanggulangan bencana. Salah satunya melalui pembangunan bronjong di tebing Sungai Kedunggaleng sepanjang 57 meter yang berada di Dusun Karangdalem dan Dusun Satriyan.

Dua wilayah tersebut sebelumnya menjadi titik yang cukup rawan terdampak banjir dan abrasi tebing sungai.

Pembangunan bronjong tersebut merupakan bantuan dari BPBD Provinsi Jawa Timur sebagai upaya memperkuat struktur tebing sungai agar tidak mudah terkikis arus saat banjir terjadi.

“Bronjong ini sangat bermanfaat sebagai dinding penahan tebing. Jika tidak diperkuat, arus banjir bisa mengikis tebing dan menyebabkan longsor,” katanya.

Menurutnya, keberadaan bronjong sangat penting mengingat jarak antara rumah warga dengan aliran sungai relatif dekat. Dengan adanya penguatan tebing, diharapkan risiko longsor maupun kerusakan permukiman dapat diminimalisir.

 

PENGHARGAAN: Kepala Desa Kedungdalem, Sumartono menerima penghargaan desa dengan kondusivitas kamtibmas dari Kapolres Probolinggo.(Pemerintah Desa Kedungdalem for Jawa Pos Radar Bromo)
PENGHARGAAN: Kepala Desa Kedungdalem, Sumartono menerima penghargaan desa dengan kondusivitas kamtibmas dari Kapolres Probolinggo.(Pemerintah Desa Kedungdalem for Jawa Pos Radar Bromo)

 

Solidaritas Warga Terjaga Lewat Siskamling-Kadesa

SOLIDARITAS dan semangat kebersamaan masyarakat Desa Kedungdalem terus terjaga melalui berbagai program sosial kemasyarakatan yang digagas Pemdes Kedungdalem. Mulai dari siskamling hingga tradisi tasyakuran desa atau kadesa menjadi wujud nyata kuatnya kekompakan warga dalam menjaga keamanan dan keharmonisan lingkungan.

Kepala Desa Kedungdalem, Sumartono menjelaskan, kegiatan sistem keamanan lingkungan (siskamling) telah aktif dijalankan masyarakat selama kurang lebih 15 tahun terakhir. Kegiatan tersebut dilakukan secara bergiliran oleh warga di masing-masing dusun sebagai bentuk partisipasi bersama dalam menjaga keamanan desa.

Menurutnya, keberadaan siskamling memiliki peran penting mengingat Desa Kedungdalem merupakan salah satu jalur penghubung utama antara wilayah Kota dan Kabupaten Probolinggo serta menjadi akses menuju sejumlah desa lainnya.

Posisi desa kami menjadi poros penghubung antarwilayah, maka keamanan menjadi hal yang sangat penting untuk dijaga bersama,” ujarnya.

Ia menambahkan, kegiatan ronda malam tersebut tidak hanya bertujuan menjaga keamanan lingkungan. Tetapi juga menjadi langkah preventif untuk meminimalisir potensi tindak kriminalitas, terutama pada malam hari.

SOSIALISASI: Perangkat Desa Kedungdalem bersama mahasiswa UMM saat melakukan sosialisasi kampung tangguh bencana. (Pemerintah Desa Kedungdalem for Jawa Pos Radar Bromo)
SOSIALISASI: Perangkat Desa Kedungdalem bersama mahasiswa UMM saat melakukan sosialisasi kampung tangguh bencana. (Pemerintah Desa Kedungdalem for Jawa Pos Radar Bromo)

Siskamling ini sangat membantu menjaga kondusivitas desa sehingga masyarakat merasa lebih aman dan nyaman,” katanya.

Komitmen masyarakat dalam menjaga keamanan lingkungan bahkan mendapat apresiasi dari Polres Probolinggo. Pada tahun ini, Pemdes Kedungdalem berhasil meraih penghargaan juara tiga dalam penilaian upaya kondusivitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) melalui kegiatan siskamling.

Penghargaan tersebut diberikan berdasarkan sejumlah indikator, mulai dari kekompakan warga, konsistensi pelaksanaan ronda hingga kecepatan koordinasi dan penanganan ketika terjadi suatu permasalahan di lingkungan desa.

Untuk mendukung komunikasi yang lebih cepat dan efektif, pemerintah desa bersama masyarakat juga memanfaatkan grup WhatsApp yang melibatkan warga, perangkat desa, aparat kepolisian, hingga TNI.

“Kami saling berkoordinasi melalui grup WhatsApp bersama warga, kepolisian, dan TNI. Jadi ketika ada kejadian atau permasalahan, penanganannya bisa dilakukan dengan lebih cepat,” ungkap Sumartono.

Tak hanya dalam menjaga keamanan, solidaritas masyarakat Desa Kedungdalem juga terlihat dalam berbagai kegiatan sosial dan budaya desa.

Salah satunya melalui kegiatan kadesa atau tasyakuran desa yang rutin digelar setiap peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Pada malam 17 Agustus, pemerintah desa bersama masyarakat mengadakan selamatan bersama di kantor desa sebagai bentuk rasa syukur sekaligus doa bersama untuk keselamatan dan kesejahteraan desa.

Menariknya, dalam kegiatan tersebut masyarakat membawa sekitar 140 tumpeng yang kemudian disantap bersama dalam suasana penuh kebersamaan dan kekeluargaan. Kegiatan itu bahkan dihadiri hampir 1.000 warga Desa Kedungdalem.

“Masyarakat berkumpul untuk berdoa bersama dalam rangka tasyakuran tujuhbelasan sekaligus memohon keselamatan dan kesejahteraan bagi desa serta seluruh masyarakat,” pungkasnya. (gus/fun/*)

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#kecamatan dringu #desa kedungdalem #transparansi desa