BERADA di ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut, menjadi keuntungan tersendiri bagi Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Salah satunya potensi dari perkebunan kopi. Potensi ini terus dikembangkan sebagai identitas sekaligus kekuatan ekonomi.
Desa dengan jumlah penduduk sekitar 2.814 jiwa ini dikenal memiliki lahan kopi yang luas. Tersebar di tiga dusun. Sebagian besar jenis Arabika. Jenis ini dinilai paling cocok tumbuh di kawasan dataran tinggi.
Sekretaris Desa Sapikerep Hendro Purnomo mengatakan, kondisi geografis desa menjadi faktor utama berkembangnya tanaman kopi Arabika. Pemerintah desa terus berupaya memperkuat sektor perkebunan kopi melalui berbagai kolaborasi. Salah satunya dengan menggandeng pihak ketiga melalui program corporate social responsibility (CSR).
Tujuannya, mendukung perawatan dan pengembangan kebun kopi masyarakat. Kelompok tani kopi di Desa Sapikerep juga mendapatkan dukungan peralatan dan pelatihan dari pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas hasil produksi kopi. Bantuan mencakup proses pascapanen, mulai pembersihan biji kopi, roasting, hingga pengolahan grinder.
“Harapannya, kualitas kopi Desa Sapikerep semakin baik dan memiliki daya saing,” ujarnya.
Tak hanya unggul dari sisi budi daya, Desa Sapikerep juga mulai dikenal melalui produk kopi khas yang memiliki karakteristik unik. Salah satunya, kopi Lebro atau Lereng Bromo yang kini telah memiliki label sendiri dan banyak diminati wisatawan, termasuk wisatawan mancanegara.
Ada pula kopi yang memiliki aroma pinus karena ditanam di sekitar hutan pinus hingga kopi dengan sentuhan aroma bunga dari area perkebunan yang berada di dekat taman bunga.
“Karakteristik kopi itu bisa menyerap aroma di sekitarnya. Kalau ditanam di dekat pinus, aromanya bisa cenderung pinus. Kalau dekat taman bunga, nanti ada aroma bunganya juga,” terang Hendro.
Dari sisi produktivitas, satu pohon kopi rata-rata mampu menghasilkan tiga hingga empat kilogram kopi basah dalam sekali panen. Namun tanaman yang baru mulai berbuah, hasil panennya berkisar satu hingga dua kilogram kopi basah. Dari satu kilogram kopi basah, biasanya hanya menghasilkan sekitar seperempat kilogram kopi kering atau green bean.
Pemerintah Desa Sapikerep juga mengembangkan program ketahanan pangan melalui peternakan ayam petelur. Kini terdapat 570 ekor ayam yang setiap harinya menghasilkan telur. “Tahun ini rencananya akan kami tambah lagi sekitar 50 ekor ayam beserta kandangnya,” ujar Hendro.
Pengelolaan peternakan ini terintegrasi dengan sektor pertanian dan perkebunan. Kotoran ayam dikumpulkan dan diolah menjadi pupuk organik. Kemudian, dimanfaatkan untuk mendukung produktivitas pertanian, termasuk perkebunan kopi. (gus/rud/*)
Bangun Budaya Peduli Lingkungan
PEMERINTAH Desa Sapikerep terus berkomitmen menjaga kebersihan lingkungan. Salah satunya melalui program pengelolaan atau daur ulang sampah plastik.
Sebagai langkah menciptakan desa yang bersih dan berkelanjutan, pemerintah desa juga berupaya menanamkan kesadaran lingkungan sejak usia dini. Seperti mengajak para siswa memanfaatkan botol plastik bekas menjadi ecobrick.
“Untuk sementara, kami masih menggunakan alat pres seadanya untuk mengolah plastik jadi ecobrick. Ke depan, kami ingin mengembangkan bank sampah agar masyarakat semakin semangat memilah dan mengumpulkan sampah,” ujar Sekretaris Desa Sapikerep Hendro Purnomo.
Melalui program bank sampah, masyarakat tidak hanya diajak menjaga kebersihan lingkungan. Tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi. Pemerintah desa berencana memberikan apresiasi berupa voucher listrik bagi warga yang aktif mengumpulkan sampah terpilah.
“Harapannya, masyarakat semakin sadar bahwa sampah juga bisa memiliki nilai manfaat jika dikelola dengan baik,” katanya.
Selain masalah lingkungan, pelayanan sosial dan kesehatan masyarakat juga terus diperkuat. Salah satunya dengan rutin melaksanakan kegiatan Posyandu. Sasaranya balita, remaja, ibu hamil, hingga warga lanjut usia.
Warga yang belum sejahtera, juga diperhatikan. Yakni, dengan memberikan Bantuan Tunai Langsung dari Dana Desa (BLT-DD). Tahun ini, tercatat ada 15 keluarga penerima manfaat.
“Harapannya, dapat membantu kebutuhan sehari-hari,” jelasnya.
Salah satu KPM, Sulasmi, 55, mengaku bersyukur dan merasa terbantu dengan adanya bantuan ini.
“Bantuan ini akan saya gunakan untuk membeli beras dan minyak goreng,” ungkapnya. (gus/rud/*)
Editor : Fahreza Nuraga