PROBOLINGGO, Radar Bromo-Kesadaran akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana terus ditanamkan kepada generasi muda.
Minggu (10/5), puluhan pelajar SMA sederajat dari Kota dan Kabupaten Probolinggo mengikuti simulasi evakuasi gempa bumi yang digelar di Bale Hinggil, Kota Probolinggo.
Kegiatan yang diinisiasi oleh anggota Komisi VIII DPR RI, Dini Rahmania bekerja sama dengan Jawa Pos Radar Bromo ini melibatkan kalangan Gen Z untuk jadi bagian dari upaya edukasi kebencanaan.
Tujuannya agar para pelajar memahami langkah penyelamatan diri saat terjadi gempa bumi maupun bencana lainnya.
Dalam acara itu menghadirkan Kalaksa BPBD Kota Probolinggo Boedi Harjanto serta Koordinator Tagana Kabupaten Probolinggo Buntoro Putro sebagai narasumber.
Dalam sambutannya, Dini menjelaskan pentingnya mitigasi bencana. Sebab, bisa meminimalisir dampak bencana.
"Bencana itu datangnya tak diundang, tak ada woro-woronya. Kita harus bersiap siaga untuk menghadapinya," pesan Dini.
Baca Juga: Kartini Masa Kini: Anggota DPR RI Dini Rahmania, Hadir, Bekerja, dan Berdampak Nyata
Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Probolinggo Yudha Arisandi menjelaskan, masyarakat Probolinggo perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana gempa bumi.
Sebab, di wilayah Kabupaten Probolinggo terdapat sesar aktif yang dikenal dengan nama Sesar Probolinggo.
Ia menjelaskan, sesar tersebut membentang dari wilayah barat hingga timur, meliputi Kecamatan Banyuanyar, Maron, hingga Gending.
Apabila terjadi pergeseran pada sesar aktif tersebut, getarannya berpotensi dirasakan oleh masyarakat baik di wilayah Kabupaten maupun Kota Probolinggo.
“Karena itu, penting bagi masyarakat, termasuk generasi muda, untuk mengetahui potensi bencana yang bisa terjadi. Mereka juga harus memahami cara melindungi diri, mengetahui jalur evakuasi dan titik kumpul aman, mencatat nomor penting saat keadaan darurat, hingga memahami SOP dan rencana evakuasi,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, para peserta tidak hanya menerima materi teori tetapi juga langsung mempraktikkan simulasi evakuasi gempa bumi.
Simulasi dimulai dari kondisi berada di dalam ruangan hingga proses penyelamatan diri menuju area terbuka dan titik kumpul aman.
Yudha menekankan, langkah pertama yang harus dilakukan saat terjadi gempa bumi adalah melindungi kepala untuk mengurangi risiko cedera akibat reruntuhan atau benda jatuh.
Peserta juga diajarkan berlindung di bawah meja atau benda yang memiliki permukaan kokoh.
“Jauhi benda-benda yang mudah pecah. Setelah gempa berhenti, segera menuju titik evakuasi dengan tertib dan tetap waspada,” jelasnya.
Melalui simulasi tersebut, BPBD berharap para pelajar memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai langkah-langkah penyelamatan diri saat menghadapi bencana.
Selain itu, peserta diharapkan dapat menjadi agen edukasi kebencanaan di lingkungan masing-masing.
“Harapannya, mereka bisa menyampaikan kembali informasi ini kepada keluarga, teman, maupun lingkungan sekolah agar kesiapsiagaan bencana semakin meningkat,” tambahnya.
Salah satu peserta, Kiano Rafa, 15, mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru dari kegiatan tersebut.
Siswa SMA Negeri 1 Sukapura itu menilai simulasi kebencanaan sangat bermanfaat untuk melatih kesiapan dan ketangguhan menghadapi bencana.
“Ke depan saya ingin membagikan ilmu ini kepada teman-teman di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal,” jelasnya. (gus/fun)
Editor : Muhammad Fahmi