Desa Ngadirejo, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, dikenal sebagai salah satu wilayah dengan potensi pertaniannya. Dari total sekitar 567 kepala keluarga (KK), 90 persen bermatapencaharian di sektor pertanian.
Luas wilayah Desa Ngadirejo mencapai sekitar 845 hektare. Dari jumlah itu, sekitar 80 persen berupa lahan pertanian yang menjadi nadi perekonomian masyarakat.
Kepala Desa Ngadirejo Anang Budiono mengatakan, komoditas unggulan yang menjadi andalan desa adalah kubis. Kualitas bibit kubis dari Desa Ngadirejo telah dikenal luas hingga ke wilayah kecamatan lain.
“Permintaan bibit kubis cukup tinggi, salah satunya dari Kecamatan Sumber. Dalam sekali pemesanan, jumlahnya bisa mencapai ratusan ribu batang,” ujarnya.
Selain kubis, petani di Desa Ngadirejo juga membudidayakan berbagai komoditas lain, seperti jagung, kentang, tomat, dan bawang prei. Meski demikian, sekitar 60 persen lahan pertanian masih didominasi kubis. Umumnya, hasil panen dijual oleh tengkulak yang datang langsung ke desa.
Anang mengatakan, terdapat beberapa jenis kubis yang dibudidaya petani. Di antaranya, varietas dengan masa panen relatif cepat hingga varietas dengan masa panen lebih lama.
“Ada kubis yang bisa dipanen dalam waktu lebih singkat, seperti jenis Green Nova, sekitar tiga bulan sudah bisa dipanen. Sementara, jenis lain seperti Green Coronet, butuh waktu sekitar empat bulan,” jelasnya.
Melihat besarnya potensi ini, Pemerintah Desa Ngadirejo terus berupaya meningkatkan kapasitas petani melalui penguatan pengetahuan dan teknologi pertanian. Salah satunya berkolaborasi dengan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Sukapura.
Program ini bertujuan memperkenalkan metode pertanian modern, penggunaan bibit unggul, serta penerapan pupuk organik yang lebih ramah lingkungan.
“Selain itu, penggunaan pupuk organik juga penting untuk menjaga kesuburan tanah secara berkelanjutan, sehingga lahan pertanian tetap produktif hingga generasi mendatang,” katanya. (gus/rud/*)
Perempuan Berdaya, Kembangkan UMKM
PEMERINTAH Desa Ngadirejo terus mendorong pemberdayaan masyarakat, khususnya perempuan. Terutama dalam mengembangkan potensi lokal. Salah satunya dengan memanfaatkan tanaman ganyong sebagai bahan baku olahan makanan khas desa.
Kepala Desa Ngadirejo Anang Budiono mengatakan, para perempuan dibekali keterampilan mengolah ganyong menjadi berbagai produk pangan. Prosesnya dimulai dari pengambilan sari pati yang kemudian diolah menjadi kue semprit dengan cita rasa khas.
“Ganyong kami olah menjadi kue semprit yang memiliki rasa unik. Ada juga kue rambutan yang pembuatannya membutuhkan keterampilan khusus, sehingga tidak semua orang bisa membuatnya,” ujarnya.
Kini, produknya telah dipasarkan, baik di dalam desa maupun antarwilayah di Kecamatan Sukapura. Permintaan biasanya meningkat ketika musim hajatan. Kue-kue tersebut menjadi suguhan favorit masyarakat.
“Ke depan kami juga berupaya meningkatkan kualitas kemasan serta melengkapi perizinan agar produk ini bisa masuk ke pasar yang lebih luas, seperti hotel dan toko-toko,” katanya.
Di sektor kesehatan, Pemerintah Desa Ngadirejo tetap aktif mengelar Posyandu yang menyasar seluruh kelompok usia, mulai dari balita, remaja, hingga lansia. Khusus remaja, pemeriksaan dan penyuluhan dilakukan secara berkala setiap tiga bulan.
Pemerintah desa menggandeng puskesmas serta berbagai pemangku kepentingan untuk memberikan edukasi. Terutama terkait kesehatan reproduksi dan pencegahan pernikahan dini.
“Kami melakukan langkah preventif melalui penyuluhan kepada remaja agar tidak terjadi pernikahan dini maupun hal-hal yang tidak diinginkan. Selain bertentangan dengan hukum, dari sisi kesehatan juga tidak baik, sehingga perlu dicegah sejak dini,” jelas Anang.
Dalam pembangunan fisik, pemerintah desa telah merencanakan peningkatan infrastruktur. Salah satunya merabat beton jalan sepanjang 32 meter dengan lebar 3 meter di Dusun Mrati. Jalan tersebut diharapkan dapat meningkatkan aksesibilitas dan kenyamanan masyarakat.
Program perbaikan rumah tidak layak huni (RTLH) juga berlanjut. Tahun ini sasarannya rumah warga Dusun Cemoro 3, Mutiyayah.
“Harapannya, setelah dilakukan perbaikan, rumah tersebut menjadi lebih layak huni, sehingga pemiliknya dapat menjalani kehidupan dengan lebih nyaman dan sejahtera,” katanya. (gus/rud/*)
Editor : Moch Vikry Romadhoni