Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Perkuat Kemandirian Masyarakat Lewat Sosial-Pendidikan

Inneke Agustin • Rabu, 6 Mei 2026 | 05:20 WIB

 

POTENSI: Kepala Desa Jetak, Ngantoro saat memetik buah terong Belanda yang dapat diolah menjadi sirup dan selai khas Desa Jetak, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. (Foto: Inneke Agustin/Jawa Pos Radar Bromo)
POTENSI: Kepala Desa Jetak, Ngantoro saat memetik buah terong Belanda yang dapat diolah menjadi sirup dan selai khas Desa Jetak, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. (Foto: Inneke Agustin/Jawa Pos Radar Bromo)

Meski tercatat sebagai desa dengan wilayah dan jumlah penduduk terkecil di Kabupaten Probolinggo, Desa Jetak terus menunjukkan geliat inovasi. Berbagai program yang dijalankan tidak hanya berorientasi pada pelayanan, tetapi juga diarahkan untuk membangun kemandirian masyarakat secara berkelanjutan.

PEMERINTAH desa (pemdes) setempat menitikberatkan pelayanan di bidang sosial dan pendidikan sebagai fondasi utama. Dengan mengusung slogan “Desa Beradat dan Berbudaya”, kehidupan masyarakat Jetak dikenal guyup dan kental dengan nilai kebersamaan. Budaya saling membantu, terutama saat warga menggelar hajatan, menjadi modal sosial penting dalam menciptakan kemandirian kolektif.

Salah satu inovasi nyata adalah optimalisasi balai desa sebagai pusat kegiatan masyarakat. Bangunan berkapasitas hingga 1.000 orang ini dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, mulai dari pernikahan, khitanan, hingga kegiatan adat lainnya.

Kepala Desa Jetak, Ngantoro menjelaskan bahwa penggunaan balai desa memberikan efisiensi biaya yang signifikan.

“Jika dibandingkan harus menyewa tenda sendiri yang bisa menghabiskan Rp 25 hingga Rp 50 juta, penggunaan balai desa cukup sekitar Rp 8 juta untuk durasi yang sama,” ujarnya.

Tak hanya tempat, balai desa juga dilengkapi berbagai fasilitas seperti peralatan memasak, perlengkapan makan, listrik, air, hingga hiburan. Sehingga masyarakat dapat menyelenggarakan hajatan secara mandiri dengan biaya yang lebih terjangkau. “Warga cukup membawa bahan pokok,” tambah Ngantoro.

Pemanfaatan fasilitas ini juga berdampak pada peningkatan pendapatan asli desa (PADes), sekaligus memperkuat ekonomi lokal.

Rata-rata satu hingga tiga kegiatan hajatan digelar setiap bulan, kecuali bulan-bulan tertentu yang tidak diperkenankan adanya acara sesuai tradisi adat yang ada seperti bulan Kapitu dan Kasanga.

Selain aspek sosial, kemandirian masyarakat juga dibangun melalui sektor pendidikan. Pemdes Jetak mendorong generasi muda untuk menempuh pendidikan minimal hingga SMA sebagai bekal meningkatkan kualitas hidup.

“Pendidikan adalah kunci kemandirian. Dengan pendidikan, masyarakat mampu meningkatkan kesejahteraan dan mengelola potensi desa,” tegas Ngantoro.

Upaya tersebut juga dibarengi dengan sosialisasi pencegahan pernikahan dini serta penguatan pemahaman pentingnya kualitas sumber daya manusia. Menurutnya, pola pikir yang terbentuk melalui pendidikan akan menentukan arah kemajuan desa.

Desa Jetak juga memiliki potensi sumber daya alam yang menjanjikan, seperti komoditas kentang granola. Namun saat ini, hasil panen masih dijual dalam bentuk mentah kepada tengkulak.

Ke depan, pemdes mendorong masyarakat untuk mampu mengolah hasil pertanian tersebut menjadi produk bernilai tambah. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat kemandirian ekonomi warga.

“Kami ingin masyarakat tidak hanya menjadi produsen bahan mentah, tetapi juga pelaku usaha yang mampu menciptakan nilai tambah. Di sinilah kreativitas dan inovasi menjadi kunci kemandirian,” bebernya.

 Genjot UMKM-Infrastruktur untuk Perkuat Ekonomi

 UPAYA membangun kemandirian masyarakat di Desa Jetak tidak hanya bertumpu pada sektor sosial dan pendidikan.

Pemerintah desa juga terus mendorong penguatan ekonomi lokal melalui pengembangan UMKM serta pembangunan infrastruktur yang mendukung aktivitas warga.

Selain komoditas unggulan kentang granola, Desa Jetak juga memiliki beragam produk olahan UMKM yang mulai dikenal luas.

Di antaranya selai dan sirup berbahan dasar terong Belanda, serta kripik elung yang diolah dari daun muda labu siam. Produk-produk ini dinilai memiliki potensi pasar yang besar, terutama karena terong Belanda dikenal memiliki rasa segar dan menjadi favorit wisatawan yang berkunjung ke kawasan Gunung Bromo.

Kepala Desa Jetak, Ngantoro menjelaskan bahwa pemasaran produk UMKM tersebut terus diperluas, termasuk menjalin kerja sama dengan sejumlah hotel di sekitar kawasan wisata.

“Produk ini sudah kami pasarkan ke hotel-hotel sekitar. Sambil berjalan, kami juga mengurus pengembangan kemasan yang lebih menarik serta perizinan lainnya. Harapannya, produk ini bisa memberdayakan lebih banyak masyarakat dan ke depan dapat berkontribusi pada pendapatan asli desa,” ujarnya.

Penguatan UMKM ini menjadi bagian dari strategi desa dalam menciptakan kemandirian ekonomi, di mana masyarakat tidak hanya bergantung pada hasil pertanian mentah. Tetapi juga mampu menghasilkan produk olahan bernilai tambah.

Di sisi lain, pemdes Jetak juga tetap fokus pada pembangunan infrastruktur dasar yang menunjang kebutuhan masyarakat. Salah satu prioritas yang tengah dikembangkan adalah pemenuhan kebutuhan air bersih melalui pembangunan sistem pompa dan tandon air desa.

“Hasil dari meteran penggunaan air oleh warga nantinya akan menjadi salah satu sumber pendapatan desa. Dana tersebut akan kami gunakan untuk perawatan dan peningkatan kapasitas pompa agar layanan tetap optimal,” jelas Ngantoro.

RENCANA PEMBANGUNAN: Kepala Desa Jetak, Ngantoro saat menunjukkan lokasi rencana pembangunan TPT untuk memperkuat tebing jalanan Desa Jetak, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.
RENCANA PEMBANGUNAN: Kepala Desa Jetak, Ngantoro saat menunjukkan lokasi rencana pembangunan TPT untuk memperkuat tebing jalanan Desa Jetak, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.

 

RUKUN: Sejumlah warga saat bergotong royong dalam sebuah hajatan di Balai Desa Jetak, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.
RUKUN: Sejumlah warga saat bergotong royong dalam sebuah hajatan di Balai Desa Jetak, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.

Tak hanya itu, pada tahun ini Pemdes Jetak juga merencanakan pembangunan Tembok Penahan Tanah (TPT) di sepanjang tepi jalan desa. Pembangunan ini bertujuan untuk mencegah potensi longsor yang dapat mengganggu akses dan aktivitas masyarakat. Proyek tersebut dijadwalkan mulai dikerjakan pada Oktober mendatang.

Selain penguatan struktur jalan, pemerintah desa juga menargetkan peningkatan kualitas jalan usaha tani. Saat ini, jalan sepanjang 100 meter dengan lebar 2,25 meter tersebut masih berupa makadam. Jika mendapatkan dukungan anggaran investasi dari pemerintah daerah, jalan tersebut akan ditingkatkan menjadi rabat beton.

Upaya ini dinilai sangat penting karena akan membuka akses yang lebih mudah bagi sekitar 50 hektare lahan pertanian milik warga. Dengan infrastruktur yang lebih baik, petani tidak hanya lebih mudah mengangkut hasil panen, tetapi juga dapat menekan biaya distribusi.

“Kalau jalan sudah bagus, ongkos angkut bisa turun dari sekitar Rp 2.500 per kilogram menjadi Rp 2.200 per kilogram. Ini tentu akan meningkatkan efisiensi dan pendapatan petani,” pungkasnya. (gus/fun/*)

Editor : Abdul Wahid
#kecamatan sukapura #desa jetak #transparansi desa