
PROBOLINGGO— Misi Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin menjadikan daerahnya sentra telur burung puyuh di Jawa Timur hingga tingkat nasional, mulai dijalankan.
Rabu (29/04), pemkot setempat resmi meluncurkan program budi daya burung puyuh yang langsung menyasar warga melalui bantuan ternak dan pelatihan intensif.
Program yang digelar sejak pukul 08.00 di Pendopo Kecamatan Kedopok ini diawali dengan pelatihan bagi 17 keluarga perwakilan warga setempat.
Mereka mendapatkan pembekalan teknis budi daya dari narasumber nasional, Prof. Dr. Ir. Osfar Sjofjan dari Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Malang.
Sekitar pukul 11.30, Wali Kota Aminuddin meresmikan program tersebut yang ditandai dengan penyerahan bantuan simbolis.
Setiap keluarga menerima 1.000 ekor burung puyuh pulet (siap bertelur), kandang, serta pakan untuk satu siklus produksi dengan total nilai bantuan mencapai Rp 15 juta.
Penerima bantuan dipilih secara ketat melalui rekomendasi kelurahan dan verifikasi lapangan.
Tidak hanya berasal dari keluarga kurang mampu desil 1–5. Namun juga mempertimbangkan semangat berusaha, kesiapan mandiri, serta ketersediaan lahan untuk budi daya.
Dalam arahannya, Aminuddin menegaskan, launching budi daya ternak Burung Puyuh ini adalah proyek percontohan milik Kota Probolinggo.
Sebelumnya, beragam analisis dan kajian sudah dilakukan. Dan budi daya inilah yang dinilai paling potensial dan cepat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Targetnya, tiga tahun ke depan Kota Probolinggo menjadi penghasil burung puyuh di Indonesia. Untuk mencapai target itu, ada mode ternak yang harus diikuti,” tuturnya.
Menurutnya, setiap hasil penjualan 80 persen adalah untuk pakan dan keberlanjutan atau penambahan kuantitas burung puyuh.
Hanya Rp 75 ribu – Rp 85 ribu saja per hari yang boleh digunakan penerima bantuan untuk kebutuhan sehari-hari.
Aminuddin juga menekankan pentingnya manajemen usaha yang baik agar program berhasil. Sehingga peternak yang terpilih akan mandiri, terlepas dari semua bantuan pemerintah, bisa memberikan inspirasi bagi warga lainnya dan meningkatkan perekonomian.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Peternakan (KPPP) Kota Probolinggo Ir. Fitriawati, M.M. menambahkan, burung puyuh yang diberikan dalam program ini adalah yang siap bertelur (pulet). Karena itu, diperkirakan dua minggu setelah adaptasi di lingkungan baru, burung puyuh sudah bisa bertelur.
“Dengan modal Rp 15 juta ini, kami menganalisis laba bersih dari satu siklus saja sudah bisa mencapai Rp 32 juta,” katanya. (elyn/*)
Editor : Muhammad Fahmi