PROBOLINGGO, Radar Bromo-Maraknya unggahan media sosial soal komplain menu makan bergizi gratis (MBG) jadi perhatian menteri koordinator (Menko) Pangan Zulkifli Hasan.
Zulhas –sapaan akrabnya- menjelaskan, pemerintah memberi ruang komplain. Namun, ia mengingatkan agar sekolah tidak langsung mengunggah temuan ke media sosial. Apalagi sampai membuat konten.
“Jangan langsung membuat konten. Jika ada yang tidak cocok, sampaikan ke SPPG,” tegasnya di sela-sela acara kunjungan saat meninjau MBG di MAN 2 dan SMAN 1 Kota Probolinggo, Jumat (24/4).
Menurutnya, sekolah punya hak untuk menolak menu MBG yang dinilai tidak sesuai.
Dari sana, evaluasi dapat dilakukan secara bertahap hingga berujung pada penghentian kerja sama dengan penyedia.
“Sekolah bisa komplain. Sekali, dua kali, tiga kali, bisa ditutup SPPG-nya. Sekolah juga bisa memilih menu yang sesuai,” tegas Zulhas.
Hal itu dinilai lebih efektif ketimbang sekolah meng-upload komplain soal MBG di media sosial.
Baca Juga: Baru Satu Dapur MBG di Kabupaten Probolinggo yang Kantongi Sertifikasi Halal
“Komunikasi antara sekolah dan SPPG harus terjalin. Bisa juga melapor ke call center kami atau ke Wali Kota. Kalau hanya ngonten, persoalan tidak akan selesai. Lebih baik kita perbaiki bersama,” ujarnya.
Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin yang mendampingi Zulhas menyebut, pihaknya telah menyiapkan mekanisme pengawasan melalui tim penerima makanan di setiap sekolah.
Tim tersebut dibekali SOP untuk memeriksa kondisi makanan. Mulai dari bau, bentuk, hingga indikasi basi atau berlendir.
“Jika ditemukan hal-hal yang mencurigakan, sekolah berhak langsung menolak makanan tersebut saat itu juga,” jelasnya.
Tim juga diwajibkan membuat laporan mingguan. Ini sebagai bentuk pengawasan berkelanjutan dan pencegahan risiko keracunan.
Aminuddin menambahkan, pelaksanaan MBG di Kota Probolinggo sejauh ini berjalan baik tanpa kasus keracunan.
Memang sempat ada dua penyedia yang hampir dikenai sanksi terkait pengelolaan limbah. Namun telah diselesaikan dalam satu bulan.
“Untuk limbah organik, kami bekerja sama dengan pihak ketiga. Sisa makanan dimanfaatkan menjadi pakan maggot, bahkan saat ini masih terbilang kurang,” jelasnya. (gus/hn)
Editor : Muhammad Fahmi