PEMERINTAH Desa/Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, mempunyai program ketahanan pangan yang terus berkembang. Unit usaha penggemukan sapi. Di tengah keterbatasan anggaran, program ini terus dilanjutkan demi menopang perekonomian desa.
Program ketahanan pangan masih menjadi salah satu program unggulan desa. Sayangnya, tahun ini karena keterbatasan anggaran, Pemerintah Desa Tiris belum bisa menambah anggaran. Namun program ketahanan pangan penggemukan sapi yang telah dijalankan pada tahun sebelumnya tetap dilaksanakan.
Sekretaris Desa Tiris Husen Mansyur mengatakan, keuntungan dari program ketahanan pangan akan maksimal jika dilakukan secara berkelanjutan. Hal ini tentunya perlu perencanaan dan persiapan matang. Karena itu, pemerintah desa menjadikan potensi alam dan sumber daya manusia (SDM) sebagai dasar untuk merintis program ketahanan pangan.
Sebelumnya, BUMDes Tiris merealisasikan program ketahanan pangan berupa penggemukan sapi. Program ini dipilih setelah melakukan dua pertimbangan. Salah sautnya karena banyaknya stok pakan di wilayah desa. Baik berupa rerumputan atau dedaunan yang tumbuh liar. Serta, SDM warga yang mampu mengelola penggemukan sapi tersebut.
“Ketahanan pangan kami realisasikan tahun sebelumnya. Sementara, tahun ini kami hanya meneruskan saja. Modalnya akan terus diputar,” katanya.
BUMDes menjalankan program ketahanan pangan penggemukan sapi dengan sistem bagi hasil. Sapi ditempatkan di kandang milik warga di Dusun Krajan, Jambuan, dan Manggis. Penggemukan sendiri memiliki target dalam jangka waktu 6 bulan, kemudian sapi sudah bisa dijual, sehingga perputaran modal bisa dilakukan dengan cepat.
Program ketahanan pangan yang sudah terealisasi ini rutin dipantau. Tujuannya, untuk memastikan pertumbuhan dan berat badan sapi lebih terkontrol. Dengan demikian, hasilnya akan lebih maksimal.
“Sejauh ini sapi yang dikelola BUMDes, masih tahap penggemukan. Namun secara berkala kami pantau dan evaluasi. Harapannya mampu menghasilkan PADes,” katanya. (ar/rud/*)
Tiga Infrastruktur Lebih Layak
INFRASTRUKTUR juga menjadi sasaran pembangunan Pemerintah Desa/Kecamatan Tiris secara berkelanjutan. Alasannya, masih banyak infrastruktur yang belum dibangun atau kondisinya belum layak.
Sekretaris Desa Tiris Husen Mansyur mengatakan, tahun lalu pemerintah desa telah membangun tiga infrastruktur. Di antaranya, jembatan di RT 22/RW 5, Dusun Manggis. Panjangnya 7 meter dengan lebar 2 meter. Jembatan ini menjadi infrastruktur penting. Sebab, wilayah tersebut sebelumnya hanya dapat diakses menggunakan jembatan kayu. Karena sudah rapuh, pemerintah desa segera membangun jembatan beton.
“Jembatan sudah selesai dibangun. Saat ini sudah difungsikan,” katanya.
Selanjutnya, ada pavingisasi jalan sepanjang 314 meter di RT 20/RW 5, Dusun Manggis. Jalan setapak ini sebelumnya masih berupa tanah. Saat hujan kerap dikeluhkan warga karena berlumpur dan licin.
“Berkonstruksi paving. Sebab, jalan tersebut cenderung gembur dan mudah gerak,” terangnya.
Pemerintah desa juga telah mengaspal jalan di RT 12/RW 3, Dusun Timur Sungai sampai RT 31/RW 4, Dusun Jambuan. Infrastruktur ini merupakan jalan poros desa. Menjadi akses penghubung antardusun dan jalan menuju permukiman.
Husen menjelaskan, ketiga infrastruktur tersebut merupakan hasil pemetaan sekaligus usulan warga yang kemudian dimusyawarahkan. Akhirnya, menjadi target pembangunan fisik Pemerintah Desa Tiris.
“Tiga infrastruktur kondisinya sudah nyaman dan kokoh. Semoga dapat memberikan manfaat pada masyarakat,” ujarnya. (ar/rud/*)
Editor : Fahreza Nuraga