Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sejumlah Warga Kota Probolinggo Resah, Giliran Elpiji Nonsubsidi Mulai Langka dan Harganya Melonjak

Arif Mashudi • Senin, 20 April 2026 | 21:00 WIB
Ilustrasi AI
Ilustrasi AI

 

KANIGARAN, Radar Bromo-Belum juga elpiji 3 kg (elpiji melon) mudah ditemukan keberadaannya. Warga Kota Probolinggo beberapa hari terakhir mengeluhkan kesulitan mendapat elpiji non subsidi (NPSO).

Gas elpiji untuk jenis Bright Gas 5,5kg, 12 kg, mulai sulit ditemui di pasaran.

Selain ketersediaan yang terbatas, harga jual yang melonjak hingga menyentuh Rp 350 ribu per tabung.

Kondisi tersebut semakin menambah beban masyarakat. Sejumlah warga mengaku kini harus berkeliling ke beberapa pangkalan atau agen untuk mendapatkan Bright Gas 12 kg.

Namun, seringkali stok dalam kondisi kosong. “Sudah keliling ke beberapa tempat, tapi sering tidak ada. Kalaupun ada, harganya sudah sangat mahal,” kata salah satu warga di Probolinggo.

Kenaikan harga yang cukup signifikan membuat masyarakat merasa keberatan.

Terutama jika dibandingkan dengan LPG subsidi 3 kg atau subsidi, yang memiliki selisih harga sangat jauh.

Baca Juga: Elpiji Melon Langka di Kota Probolinggo dan Harga Eceran Melonjak, Ternyata Ini Penyebabnya

Situasi ini memicu kecenderungan sebagian masyarakat beralih ke LPG subsidi, meskipun tidak semuanya berhak menggunakan.

”Harga gas elpiji yang 12 Kg kalaupun ada mahal sampai Rp 350 ribu per tabung mas. Padahal sebelumnya hanya Rp 210 ribu. Kami pakai gas elpiji non subsidi, karena yang tabung 3 Kg untuk warga kurang mampu. Tapi kalau yang 12 Kg jadi mahal gini, berat bagi saya,” kata Evi, 29, warga Kanigaran Kota Probolinggo.

Para pelaku usaha kecil menjadi pihak yang paling terdampak. Keterbatasan stok dan tingginya harga memaksa mereka menyesuaikan biaya operasional yang berpotensi berdampak pada kenaikan harga jual kepada konsumen.

Warga berharap pemerintah dan pihak terkait segera mengambil langkah konkret untuk memastikan ketersediaan LPG non subsidi tetap terjaga serta harga yang lebih stabil.

Supaya tidak semakin memberatkan masyarakat di tengah kondisi ekonomi saat ini.

”Kalau mahal gini, saya nanti terpaksa cari dan beli gas elpiji yang 3 Kg subsidi. Karena yang non subsidi, sulit dijangkau harganya,” aku Evi.

Salah satu penjual tabung gas elpiji mengaku, gas elpiji 3 kg sudah mulai ada, tapi tidak selancar sebelumnya pengirimannya.

Sementara itu, Ahad Rahedi selaku Area Manager Comm, Rel. & CSR Jatimbalinus PT Pertamina Patra Niaga saat dikonfirmasi enggan memberikan keterangan atau tanggapan lebih lanjut.

Dijelaskannya, pihak Pertamina akan mengecek dan memastikan kondisi di lapangan lebih dulu. ”Kami cek ke lapangan dulu,” ujarnya. (mas/mie)

Editor : Muhammad Fahmi
#bright #gas elpiji #pertamina #Nonsubsidi #probolinggo